Perjalanan Sang Bayi

Sudah 9 bulan ngga apdet blog? Ah, memang penyakit malas sering melanda. Kali ini mau cerita perjalanan baby Farrell aja. Dari janin, orok, hingga batita jadi topik terus, dan… berlanjut sekarang….

Baby Farrell sudah sekolah lho, PG. Dimana? Deket rumah. Ada yang tau PG/TK IT Rejis? Yang tinggalnya sekitaran rumah saya alamatnya pasti tahu… So far, sukaaaaa dengan sekolah ini. Bunda-bundanya di PG telaten dan sabar menghadapi anak-anak. Bebas deh anak-anak mau masih kolokan juga ndak pa pa… Namanya juga baru 3 tahun, ada yang belum genep pula…. Kalo pas makan, dibantu… Belum bisa makan sendiri? Disuapin. Nangis karena ditinggal mama pulang? Digendong, meski itu dari pagi sampai selesai jam sekolah. Telaten mengajak anak-anak menyelesaikan tugas. Tapi semua harus membuat tugas, jadi ya ada yang siang-siang pas mau pulang baru mengerjakan tugas, soalnya pas paginya dia masih mau main-main. Hasilnya? Semua siswa punya karya yang ditempel di dinding kelas atau dibawa pulang buat dipamerin ke ortunya. Senanglah, namanya juga anak-anak. Continue reading

Tahun Baru, Tantangan Baru

super mom

Siapa yang biasa membuat resolusi setiap tahun baru, ngacuuuung….

Yang pasti bukan saya. Punya sih keinginan ini itu, tapi jaraaaang ditulis dan dideklarasikan or dibuat judul resolusi tahun sekian. Mungkin karena itu ya jadinya sering meleset, soalnya jadi ngga fokus. Eh, tapi tulisan ini bukan tentang resolusi tahun baru kok. Ini sekedar curhat, bahwasanya pada tahun 2014 yang masih kinyis kinyis ini, ternyata saya betul betul mendapatkan tantangan baru. Bukaaaannn…. bukan karir baru yang saya idam – idamkan itu, tapiiiiii….. yaaaakkkitu ialaaaahhhhh….: menjadi IRT sejati tanpa ART.

Hihih…. Ho oh, tepat pada tanggal 1 Januari ketika matahari belum tinggi dan saya masih leyeh leyeh ngopi sambil kucek kucek mata, si mbak asisten dengan lantang bilang mau berhenti bekerja di rumah saya, dengan alasan ingin berbisnis sendiri. Menurut info, dia sudah buka sebuah konter pulsa di mana gitu, dan ga ada yang jaga tuh konter. Tentunya lost opportunities dong… Mangkanya dia mau brenti sebagai ART dan ingin menyalurkan naluri bisnisnya. Tentu saja saya dukung.

Kapan mau berhenti? – Saya bertanya.

Besok. – Si ART menjawab.

Langsung saya mual. Tapi ya sudahlah, saya ikhlas, meski mualnya ndak bisa langsung ilang. Seperti dicampakkan tiba – tiba, by ART. Apa salah dan dosaku huhuhuhuuuuuu….

Yowessss, life must go on. Jadi sudah beberapa hari ini saya beraktifitas berdua saja dengan balitaku yang ganteng itu. *membayangkan menjadi langsing dalam beberapa minggu ke depan*

//Salam capek ngurus rumah.

Balita Montok

Balitaku termasuk yang mudah makan. Sejak dikenalkan makanan padat di usia 7 bulan, saya memberinya banyak variasi. Ya nasi putih, nasi merah, kentang, ikan, ayam, hati ayam, daging, bayam, wortel, telur, tofu, tempe, udang, macam macam lah pokoknya. Makannya memang lahap. Ndilalah ya dicobain macam macam bahan juga ndak ada alergi dianya. Dari bubur blender hingga nasi utuh, semua hayo aja. Sekarang di usia dua setengah tahun, bobotnya 22 kg lebih. Tingginya kurang sedikit dari 100 cm. Gemuk? Saya lebih suka menyebutnya montok.

Saya sering ditanya famili: dikasi vitamin apa mbak, kok gampang makannya? Saya jawab: saya tidak memberinya vitamin. Saya tahu pola makan si balita normal sejak bayi dan saya rasa ia tidak perlu vitamin penambah nafsu makan. Orang tidak percaya. Saya juga. Memang, kalau si balita pas sakit muntah mencret, pasti dapat vitamin dari dokter. Yang saya ingat, ada obat yang mengandung Zinc, yang menurut dokter akan membuat si anak nyaman perutnya, tidak mual saat makanan masuk, jadi tidak muntah. Tapi itu kan pas si balita sakit, wajar dong saya mengikuti resep dokter. Saya jadi mikir, apa efek obatnya keterusan ya jadi makannya doyan banget?

Akhir akhir ini, saya disarankan keluarga dekat supaya bobot si balita dikurangi. Menurut mereka si balita sudah kegendutan dan mereka khawatir nanti keterusan sampai dewasa susah jadi langsing. Montok salah, kurus salah. Serba salah.

Mbak Asisten

Image

Gambar dipinjam dari sini. Asisten jaman sekarang. Gampang gampang susah. Mau nyari yang separo baya, atau muda belia, tetap saja ada tantangannya. Yang dulu, anaknya tiga masih kecil kecil. Yang ada saya sering mengalah demi dia mengurus anak anaknya. Ngga tega juga. Yang setelahnya, anaknya sudah besar besar, sudah ada yang kerja malah. Tapi entahlah setelah lebaran tidak datang lagi tanpa kabar. Yang kemarin, kurang cekatan. Saya jadi capek sendiri. Yang sekarang, sudah setahun bertahan jadi asisten saya. Muda belia usia awal dua puluh. Rajin, telaten mengurus balitaku, penampilannya juga rapi dan bersih. Tapi sewajarnya gadis usia awal dewasa dan sudah bekerja sejak usia lima belas tahunan, dia mulai kemayu mencari pasangan hidup.

Setelah setiap bulan selalu diberi kelonggaran waktu bermain, kadang satu kadang dua hari, kemudian libur lebaran dua minggu, lalu setelahnya ijin dua hari acara hajatan keluarga (katanya kakaknya dilamar), minggu lalu si asisten bilang akan ijin lagi. Saya sudah menduga, kan kakaknya kemarin dilamar, tentunya sekarang acara kakaknya nikah. Okelah.

Bu, saya mau ijin pulang./ Berapa lama?/ Seminggu./ Lama amat. Jangan lama lama. Saya sendirian, kan papa balita mau pergi lama tuh. Kapan berangkat?/ Besok. Soalnya saya mau lamaran juga. Continue reading