Kehamilan Ektopik (1)

Wow… cukup lama blog ini tidak diurus ya.. Si empunya cukup banyak urusan, maklum pengacara 🙂

Begitu banyak yang saya alami beberapa tahun ini. Study sudah selesai, sudah pernah kembali bekerja, sekarang sedang mengurus badan usaha yang belum lancar…. Yah.. semua dijalani sambil berharap yang terbaik akan terjadi. Di tengah-tengah kesibukan mempromosikan dan pas lagi semangat mencari potensial project tahun lalu, saya mengalami kehamilan ektopik.

#Apa itu? Continue reading

Antri Antri Lagi

Sejak hamil, aku adalah pengunjung setia Rumah Sakit. Iya betul, untuk periksa kandungan. Sampai sekarang aku masih pengunjung setia Rumah Sakit. Tentu saja tujuannya berbeda. Dulu ke Dokter Spesialis Kandungan, sekarang ke Dokter Spesialis Anak.

Hanya 4 Rumah Sakit yang pernah kukunjungi. Yang pertama adalah Grup Hermina, yang kedua Jakarta Medical Centre, yang ketiga Eka Hospital, yang keempat Rumah Sakit Asri. Masing – masing punya sistem antrian sendiri.

Sejauh ini, aku puas berkunjung ke Hermina dan Eka. Sistem antriannya jelas, bisa mendaftar kapan saja, minimal di hari yang sama dengan jam praktek Dokter yang dituju. Kemudian akan dikonfirmasi nomor antriannya, diberi perkiraan jam berapa sebaiknya datang ke Rumah Sakit berdasarkan nomor antrian, supaya tidak menunggu terlalu lama. Jumlah pasien dibatasi, atau jam praktek Dokternya yang dibatasi. Misalnya Dokter A berpraktek dari jam 18.00 sampai 20.00 WIB. Pasien yang akan konsultasi ke Dokter tersebut harus sudah ada di Rumah Sakit maksimal jam 19.30 WIB. Di hari H nya, dikonfirmasi lagi, apakah akan datang atau membatalkan jadwal konsultasi. Continue reading

Beranak

Aku baru menikah 3 bulan. Keramahan orang – orang disekitarku selalu mendorong mereka bertanya tentang rencanaku beranak. Apalagi ini suasana lebaran, aku banyak sekali bertemu orang – orang baru dari keluarga baruku. Bingung sekali aku menjawabnya. Aku tak pernah menunda hal itu, tapi aku juga tak tahu kapan Tuhan akan mempercayaiku memiliki keturunan. Yang paling membuatku merasa tidak nyaman, ketika ada famili yang mendeklarasikan ‘balapan’ untuk urusan beranak ini antara aku dengan si teteh cantik yang telah menikah 4 bulan lebih duluan dari pada aku. 😦

Duh….. ini kan bukan olimpiade…..

Teman Lama

Hari ini seorang teman lama meneleponku. Ia dulu pembimbingku. Ia  ternyata masih mengamatiku dari jauh. Ia menyatakan prihatin denganku. Aku memang sedang berdiri sendirian, setahun belakangan. Digempur dari atas, kiri, kanan, dan belakang. Ia menyemangatiku segera mencari naungan baru, menyebutkan kelebihan – kelebihanku supaya aku lebih percaya diri, meyakinkanku bahwa ada yang lebih baik untukku di luar sana.

Aku terharu. Terima kasih, Bapak DG.