Kehamilan Ektopik (2)

Saya tidak ingat lagi apa yang saya lakukan dalam dua jam menahan sakit dan nyeri di perut kanan ini. Suatu saat, perawat datang mendorong ranjang saya. Saya lega, akhirnya Dokter SpOG datang memeriksa, tapi saya juga malah merasa ketakutan. Perut saya ini ditekan sedikit saja sakitnya langsung terasa menghunjam, apalagi saya bayangkan diperiksa lagi oleh Dokter SpOG, ditekan-tekan, diraba, dipindai dengan alat USG. Horor. Ketika akhirnya beberapa lama menunggu di ruang periksa Dokter, saya langsung menyampaikan bahwa saya merasa sakit yang amat sangat, dan memohon agar memeriksa saya dengan penuh kelembutan. Hasil USG Dokter memperlihatkan kantung janin menempel di tuba falopi kanan dan sudah terjadi perdarahan di rongga perut. Itulah yang menyebabkan rasa sakit dan nyeri luar biasa. Ya, saya positif harus segera operasi. Dan itu menunggu satu jam lagi, menunggu mereka mempersiapkan semuanya, kelengkapan tim Dokter, dan lain-lain. Ini tanggal 25 Desember, salah satu Dokter sepertinya sedang beribadat.

Saya bertanya apakah ini operasi besar? Iya.

Apakah harus sekarang? Saya ingin menunggu suami saya datang dulu kalau memungkinkan, biar ada yang menemani. Dokter bilang harus segera. Saya sudah mengalami perdarahan dan itu menjadikan saya beresiko tinggi akan kematian.

Dokter menambahkan informasi bahwa kemungkinan jika tuba falopi saya rusak, berarti ovarium kanan saya juga tidak berfungsi, karena tubanya diangkat. Saya hanya akan punya satu ovarium kiri yang berfungsi. Jadi produksi sel telur saya tinggal 50 persen saja.

Saya tak punya pilihan selain menurut saja untuk segera operasi seperti kata Dokter.

Saya didorong keluar dari ruang periksa menuju semacam ruang tunggu operasi. Disinilah saya harus menunggu lebih kurang satu jam. Ingin rasanya saya pingsan, supaya lenyap sakit yang saya rasakan. Tapi saya masih sadar, menikmati nyeri hingga meringis, menangis, sudah tak sanggup berteriak lagi. Sayup-sayup saya dengar mama mertua melantunkan doa, adik ipar datang entah mengantarkan apa. Saya sibuk mengatur nafas, rasanya sesak. Setiap perawat datang ke ruangan, saya bilang sudah tak tahan. Kapan operasinya? Masih lamakah? Berapa lama lagi? Lalu saya menunggu dan menahan nyeri kembali. Lagi. Begitu berulang-ulang.

Dalam satu masa saya merasa ajal saya sudah dekat, sakit ini tak tertahankan, barangkali hidup saya akan berakhir hari ini, di rumah sakit ini. Begitu pikiran saya. Wajah anak saya terlintas di pikiran. Do’a saya panjatkan, supaya ia aman dan bisa melanjutkan hidupnya dengan baik meski saya tidak lagi ada di sampingnya, mengurusnya, merawatnya. Saya menangis lagi. Bukan karena nyeri, melainkan merasakan khawatir berintensitas tinggi akan kehidupan anak saya nanti kalau saya tak ada. Saya terus berdo’a dalam hati untuk siapa saja yang saya bisa saya ingat. Orang tua, suami, kakak-kakak saya, mertua. Mungkin karena saya sibuk memanjatkan do’a, waktu tak terasa lama. Tahu-tahu perawat datang lagi dan mendorong ranjang saya menuju kamar operasi. Oh, rupanya operasi segera dimulai. Saya merasakan resah lagi, karena nyeri datang kembali bertubi-tubi. Dan akhirnya tertidur karena pengaruh obat bius.

Mereka bilang lebih kurang satu jam. Satu jam yang aneh. Saya merasa terkadang terlelap tapi juga beberapa kali mendengar para petugas medis mengobrol. Tentang jalanan yang macet, saling menanyakan kabar, menceritakan kejadian kemarin, dan banyak hal. Saya mendengar suara air, suara halus putaran mesin, suara ini dan itu. Saya sudah bisa mendengar ketika mereka bilang, “Bu, operasinya sudah selesai”.

Saya didorong keluar dari ruang operasi. Rasanya ruang tempat saya menunggu tadi. Tak lama Ibu Dokter dan seorang perawat datang. Saya sudah sadar tapi masih dalam pengaruh obat bius. Kaki saya belum bisa digerakkan. Dokter menjelaskan sedikit bahwa dalam satu jam pengaruh obat bius akan hilang. Dokter menunjukkan sebaskom darah bercampur gumpalan yang diambil dari perut saya. Saya tanya apa yang harus saya lakukan dengan sebaskom darah itu? Saya berpikir harus membawanya pulang dan menguburnya. Dokter bilang mereka akan observasi saja. Berita gembiranya lagi adalah tuba kanan saya masih bisa diperbaiki. Jadi saya tetap punya dua ovarium kanan dan kiri yang berfungsi. Alhamdulillah.

Bahagia rasanya ketika sore harinya anak saya datang menjenguk dan suami saya akhirnya datang menemani. Teringat do’a saya yang banyak saya panjatkan untuk mereka tadi siang. Alhamdulillah, saya ternyata masih diperkenankan mengurus mereka. Pemulihan saya berlangsung dua hari. Di hari ketiga saya diperbolehkan pulang kemudian kontrol seminggu kemudian.

Artikel mengenai kehamilan ektopik bisa dibaca di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s