Kehamilan Ektopik (1)

Wow… cukup lama blog ini tidak diurus ya.. Si empunya cukup banyak urusan, maklum pengacara🙂

Begitu banyak yang saya alami beberapa tahun ini. Study sudah selesai, sudah pernah kembali bekerja, sekarang sedang mengurus badan usaha yang belum lancar…. Yah.. semua dijalani sambil berharap yang terbaik akan terjadi. Di tengah-tengah kesibukan mempromosikan dan pas lagi semangat mencari potensial project tahun lalu, saya mengalami kehamilan ektopik.

#Apa itu?

Anak saya laki-laki yang ganteng itu usianya sudah lima tahun. Terpikirlah untuk memberinya saudara kandung, biar tidak menjadi our only child. Jadi di bulan Juni 2015 saya lepas IUD. Menstruasi selalu datang tepat waktu, saya tahu perut saya belum ada isinya selain nasi. Di bulan Desember 2015, rasanya menstruasi saya memang sudah terlambat. Yah… mungkin terlambat sekitar 1-2 minggu. Di bulan Desember itu suami lagi dinas, dan saat itu saya berencana menjemputnya pulang. Kami janjian bertemu di rumah mertua. Pada 24 Desember itu, saya ajak anak dan keponakan jalan-jalan ke mal. Jajan dan jalan-jalan sampai sekitar jam 7 malam. Pak suami ternyata pulangnya diundur, jadi saya berpikir untuk pulang dulu saja besok pagi.

Malamnya, di tengah-tengah film Cinderella, tiba-tiba saya mules. Saya bolak balik ke kamar mandi, tapi ini bukan mules kayak kepingin BAB. Tapi saya masih berkesimpulan bahwa saya masuk angin. Perut saya oles-oles balsem, dan minum Tolak Angin. Lalu saya berangkat tidur, berharap mulesnya reda. Di tengah-tengah tidur saya masih merasakan mules, bolak balik bangun ke kamar mandi, dan tetap saja tidak bisa BAB. Sampai pada jam 2 malam, bukan mules lagi yang terasa. Saya tahu ini sakitnya lain, bukan mules sakit perut biasa. Saya masih mencoba berbaring sambil menahan sakit, keringat dingin mulai muncul saking nyerinya ini perut. Suatu ketika perut saya sisi yang kanan terasa seperti kram, seperti ada yang menusuk di situ, dan nyerinya menjalar hingga ke dada. Saya sempat berpikir kena serangan jantung, karena masuk angin tiba-tiba, sakit di bagian dada, dan bercucuran keringat dingin. Saya tahan sambil meringis, air mata saya sudah keluar, memang sakitnya hilang dan datang, begitu berkali-kali. Mama mertua yang selalu bangun malam dan melihat saya pindah tidur di ruang tamu kemudian menawari untuk ke rumah sakit. Saya mengiyakan, tapi ini baru jam 3 pagi. Jadi saya tahan sampai setelah subuh.

Jam 5 pagi saya bersiap. Saya sudah tidak sanggup berdiri, jadi baju pun saya pakai daster yang saya pakai tidur plus bawa dompet. Anak saya sempat menangis minta ikut, untung kakak-kakaknya bisa bujuk dia supaya mau di rumah saja. Untunglah rumah sakit tidak jauh, dan jalan sepi karena libur natal. Saya masuk IGD jam 5.30 pagi, sudah sulit berjalan, untung dibantu sekuriti menggunakan kursi roda.

Saya mulai ditanya dokter jaga. Saya ceritakan dengan runut, kapan mulai terasa sakit perut, apa saja yang saya rasakan, sambil bertanya apakah bisa diberikan obat pereda nyeri, sakitnya saya sudah tidak tahan lagi. Betapa beruntungnya saya, dokter jaga itu sepertinya sudah waspada mengenai kehamilan ektopik, sehingga ia menanyakan apakah saya tengah hamil. Saya jawab, tidak yakin, mens saya memang sudah terlambat, tapi saya belum pernah sekalipun melakukan tes kehamilan. Akhirnya mereka melakukan tes kehamilan melalui sampel darah. Obat pereda nyeri juga sudah diberikan, yang sepertinya tidak ada pengaruhnya.

Satu jam sangat menyiksa menunggu hasil tes. Ya, saya positif hamil. Dokter kemudian menjelaskan mengenai kemungkinan saya mengalami kehamilan ektopik, melihat gejala yang saya alami, dokter curiga saya mengalaminya. Namun karena dia adalah dokter jaga IGD, harus menunggu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis kandungan untuk memastikan, yang mana datangnya bu dokter spesialis kandungan itu adalah nanti jam 9. Oh… penderitaan saya belum selesai. Dan masa menunggu hampir dua jam yang penuh dengan nyeri nyeri sedap itu saya masih ingat. Nyerinya datang semakin sering, seperti ada yang menancapkan pisau di perut kanan saya, sampai badan saya kaku menahannya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s