Balita Montok

Balitaku termasuk yang mudah makan. Sejak dikenalkan makanan padat di usia 7 bulan, saya memberinya banyak variasi. Ya nasi putih, nasi merah, kentang, ikan, ayam, hati ayam, daging, bayam, wortel, telur, tofu, tempe, udang, macam macam lah pokoknya. Makannya memang lahap. Ndilalah ya dicobain macam macam bahan juga ndak ada alergi dianya. Dari bubur blender hingga nasi utuh, semua hayo aja. Sekarang di usia dua setengah tahun, bobotnya 22 kg lebih. Tingginya kurang sedikit dari 100 cm. Gemuk? Saya lebih suka menyebutnya montok.

Saya sering ditanya famili: dikasi vitamin apa mbak, kok gampang makannya? Saya jawab: saya tidak memberinya vitamin. Saya tahu pola makan si balita normal sejak bayi dan saya rasa ia tidak perlu vitamin penambah nafsu makan. Orang tidak percaya. Saya juga. Memang, kalau si balita pas sakit muntah mencret, pasti dapat vitamin dari dokter. Yang saya ingat, ada obat yang mengandung Zinc, yang menurut dokter akan membuat si anak nyaman perutnya, tidak mual saat makanan masuk, jadi tidak muntah. Tapi itu kan pas si balita sakit, wajar dong saya mengikuti resep dokter. Saya jadi mikir, apa efek obatnya keterusan ya jadi makannya doyan banget?

Akhir akhir ini, saya disarankan keluarga dekat supaya bobot si balita dikurangi. Menurut mereka si balita sudah kegendutan dan mereka khawatir nanti keterusan sampai dewasa susah jadi langsing. Montok salah, kurus salah. Serba salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s