Mbak Asisten

Image

Gambar dipinjam dari sini. Asisten jaman sekarang. Gampang gampang susah. Mau nyari yang separo baya, atau muda belia, tetap saja ada tantangannya. Yang dulu, anaknya tiga masih kecil kecil. Yang ada saya sering mengalah demi dia mengurus anak anaknya. Ngga tega juga. Yang setelahnya, anaknya sudah besar besar, sudah ada yang kerja malah. Tapi entahlah setelah lebaran tidak datang lagi tanpa kabar. Yang kemarin, kurang cekatan. Saya jadi capek sendiri. Yang sekarang, sudah setahun bertahan jadi asisten saya. Muda belia usia awal dua puluh. Rajin, telaten mengurus balitaku, penampilannya juga rapi dan bersih. Tapi sewajarnya gadis usia awal dewasa dan sudah bekerja sejak usia lima belas tahunan, dia mulai kemayu mencari pasangan hidup.

Setelah setiap bulan selalu diberi kelonggaran waktu bermain, kadang satu kadang dua hari, kemudian libur lebaran dua minggu, lalu setelahnya ijin dua hari acara hajatan keluarga (katanya kakaknya dilamar), minggu lalu si asisten bilang akan ijin lagi. Saya sudah menduga, kan kakaknya kemarin dilamar, tentunya sekarang acara kakaknya nikah. Okelah.

Bu, saya mau ijin pulang./ Berapa lama?/ Seminggu./ Lama amat. Jangan lama lama. Saya sendirian, kan papa balita mau pergi lama tuh. Kapan berangkat?/ Besok. Soalnya saya mau lamaran juga.

Hiiiiihhhh… mendidih saya. Mungkin sudah keluar asap dari kuping kanan kiri saya. Kok jadi seenaknya ngatur libur sendiri gitu, mendadak lagi bilangnya. Dikiranya mentang mentang saya selalu ngasi ijin, terus bisa seenaknya gitu minta libur? Saya memang sedang di rumah, tapi bayangan ujian mid lima hari lagi itu bikin saya senewen. Kalau saya ujian ke kampus, balita saya masak mau diajak? Lagian kakaknya yang nikah kenapa dia tiba tiba jadi ngikut pake lamaran juga sih. Sebel.

Diemin aja. Paling juga dia ngga ada duit buat pulang, kan saya belum kasi gajinya (ih, jahat ya eike…). Tapi, saya memang tidak sanggup menahan hak orang lama lama, berasa ngga etis gitu. Jadi besok lusa paginya tetep saya kasih tuh gajinya, itungannya telat satu hari lah. Begitu terima uang, langsung saya liat dia jadi rajin. Pekerjaan beberes rumah pagi pagi sudah selesai. Lalu ikut saya ke pasar, lalu langsung nanya hari ini masak apa dan langsung memasak. Pokoknya jam 10 pagi semua kerja sudah selesai. Tidak biasanya. Lalu saya liat dia mandi dan dandan. C.u.r.i.g.a.

Eh, dia pamitan. Sekali lagi dengan emosi saya tanya, berapa lama. Seminggu dia jawab. O…o…. naik pitam lah saya. Saya tegas bilang, saya beri cuti dua hari, sisanya potong gaji. Dia setuju. Saya minta kembali minggu pagi (tetep saja enam hari). Dia setuju. Ditambah omelan panjang jangan seenaknya minta libur mendadak gitu, dikira kerja di tempat embahmu apa. *emosi*

Hari ini hari Minggu. Si asisten baru sampai di rumah saya jam lima lebih sore tadi.

O… o… asisten…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s