Minggu ke-38 dan Persalinan

Semua orang menyuruh (lebih tepat ‘memaksa’) aku untuk rajin berjalan kaki. Aku sudah cuti dari pekerjaanku sejak 4 hari yang lalu, dan suamiku selalu menanyaiku apakah aku sudah memulai aktifitas jalan kaki keliling komplek setiap pagi. Aku malas, karena jalan kakinya sendirian.

Jumat pagi, 08 April 2011.

Kemarin aku sudah mulai pindah ke Serpong. Hari ini adalah jadwal konsultasiku dengan Dokter Keempat. Wajah bayinya masih menghadap ke atas, lilitannya di leher sudah lepas, dan kepalanya belum betul – betul masuk ke jalan lahir. Oh, masih lamakah bayiku akan berada di dalam perut? Semoga minggu ke – 39 nanti dia sudah mau keluar. Aku ngeri membayangkan kalau harus pakai rangsangan atau bahkan C-section. Dokter Keempat menerangkan panjang lebar tahap – tahap persalinan supaya aku segera bersiap begitu tanda – tanda persalinan muncul. Oh iya, tadi pagi, aku sudah jalan – jalan keliling komplek ditemani suamiku. Lumayan, ada kira – kira 1 jam jalan kaki. Aku tahan saja rasa pegal di kaki dan nyeri menusuk – nusuk di perut bawah.

Acara setelah konsultasi ke Dokter Keempat adalah ke kantor cabang BCA, aku dan suamiku pergi ke kantor BCA di Jakarta Selatan. Aku naik turun tangga ke lantai 2. Lalu aku dan suamiku mampir ke rumah. Selepas shalat Jumat, kami menuju Kebon Jeruk, aku ada jadwal wawancara siang ini jam 2 siang. Kantor tempatku wawancara ada di lantai 2, jadi aku naik turun tangga lagi.

Jumat sore, 08 April 2011.

Mood-ku sedang tidak bagus. Aku banyak diam sepanjang sore sepulang wawancara tadi. Selepas makan malam jam tujuh, aku ingin tidur, rasanya capek beraktifitas seharian ini. Suamiku mengajak ke Teraskota menonton film di Blitz Megaplex. Aku iyakan saja, masih nanti malam jam tayangnya.

Jumat, 08 April 2011 20.30 WIB

Aku kepingin pipis, tapi kok seperti anyang – anyangan rasanya tidak bisa tuntas. Bolak – balik aku dari kamar tidur ke kamar mandi untuk pipis. Aku curiga inilah yang dinamakan kontraksi, iseng – iseng aku ambil hape dan mencatat jeda waktu rasa kepingin pipis ini datang. Hasilnya, rasa ingin pipis ini datang setiap 15 – 30 menit sekali.

Jumat, 08 April 2011 21.30 WIB

Aku tiba – tiba ingin pipis yang tak bisa ditahan. Sewaktu aku baru berjalan menuju kamar mandi, rasanya air pipisku sudah keluar tak bisa ditahan. Eh, ini pecah ketuban atau bukan ya? Aku mengingat – ingat apa Dokter Keempat bilang padaku tadi pagi. Di kamar mandi aku lihat sudah ada lendir darah.  Ini berarti mulut rahim sudah membuka? Jadi tanda – tanda persalinan sudah aku dapat, kalau ini betul rembesan air ketuban, aku punya waktu 2 jam (yang aku ingat dari briefing singkat Dokter Keempat tadi pagi) supaya bayiku selamat. Kalau tahapannya normal, berarti kira – kira 20 jam lagi bayiku akan lahir. Aku memutuskan bertanya ke Dokter Keempat, via sms. Aku ceritakan bahwa sudah ada lendir campur darah keluar, dan aku curiga ada rembesan air ketuban. Aku pakai pembalut supaya lebih nyaman tidur.

Jumat, 08 April 2011 22.47 WIB.

Lama aku menunggu balasan dari Dokter Keempat. Aku menenangkan diri, bayiku akan keluar besok, malam ini tak perlu khawatir, semua akan baik – baik saja. Tapi tadi aku hitung – hitung lagi kontraksiku sudah ada yang 15 menit sekali. Tiba – tiba hapeku berbunyi, yippiii……. sms dari Dokter Keempat! Dia bilang, jika memang sudah ada lendir campur darah keluar, aku harus segera ke Rumah Sakit.

Ok… Aku bilang ke suamiku yang baru akan berangkat tidur, ayo ke Rumah Sakit, ini perintah Dokter Keempat. Kami langsung ganti baju dan berangkat. Satu tas perlengkapan persalinanku sudah siap di mobil sejak kemarin. Untung Rumah Sakitnya dekat. Jam 23.00 WIB aku sudah sampai. Sekarang rasa kontraksinya bertambah, perutku mules seperti ingin pup. Dokter dan perawat jaga di IGD segera mengantarku ke ruang persalinan di lantai 5. Suamiku masih mengurus administrasi .

Jumat, 08 April 2011 23.00 – 24.00 WIB

Aku langsung disuruh ganti baju untuk pasien. Bidan melakukan pemeriksaan dalam. Katanya aku sudah bukaan 3. Lalu dipasang alat – alat di perutku untuk memantau detak jantung bayiku. Bidan bilang berdasar alat pantau, kontraksiku sudah 5 menit sekali. Tak lama kemudian Dokter Keempat datang, aku diperiksa dalam lagi.

“Ini sudah bukaan 4”.

Saat itu pula terasa byar di bawah sana, ketubanku betul – betul pecah. Dokter Keempat memprediksi bayiku akan lahir sekitar jam 5 pagi besok.

“Beritahu saya kalau sudah bukaan 8 ya”.

Ia berpesan kepada Bidan sebelum keluar ruangan persalinan.

Sabtu, 09 April 2011 24.00 – 02.00 WIB

Inilah waktunya aku dicuekkin. Aku kesakitan, kepingin pipis tak bisa pipis, kepingin pup tak bisa pup. Tapi aku sempat pipis di pispot karena sudah tak diperbolehkan turun dari ranjang. Susah. Aku sempat mengiyakan  untuk dipasang kateter, tapi alat itu tak bisa terpasang dengan baik karena menurut Bidan kepala bayi sudah turun. Selebihnya aku pipis saja di ranjang dengan ijin suster. Cuek sajalah. Suster dan Bidan menunggu di ruang perawat. Cuma ada aku dan suamiku di ruang persalinan ini. Televisi di dinding menyiarkan konser musik, ada Band Zigaz lagi nyanyi. Aku mulai khawatir, perutku mulai lapar, tapi aku tak ingin makan atau minum. Kuat tidak ya besok pagi aku mengejan mengeluarkan bayi kalau tak ada asupan makan dan tak bisa tidur malam ini?  Suamiku menyediakan teh manis hangat dan roti, tetap saja aku tak bisa makan sibuk merasakan kontraksi.

Bidan melakukan pemeriksaan dalam setiap jam. Jam 01.00 WIB bukaanku sudah mencapai 6. Aduh…. aku tak sabar menunggu jam 5 pagi. Sakitnya makin menjadi – jadi. Mendekati jam 02.00 WIB aku semakin kepingin pup, suster dan Bidan mengingatkan aku melakukan nafas panjang yang diajari di sesi senam hamil. Benar saja, lumayan membantu, meski saat kontraksi hebat datang ya tetap saja sakit. Aku mengingatkan Bidan supaya periksa dalam lagi, ini kan sudah jam 2 pagi. Bidan sempat mengingatkan aku supaya tidak mengejan.

“Belum boleh mengejan ya, Bu… Bukaannya belum sempurna, nanti bisa bengkak di jalan lahir”.

Selepas periksa dalam jam 2 pagi, Bidan dan suster masuk ke ruang persalinan, mereka lalu menyiapkan macam – macam untukku. Ada apa ini? Sudah tiba waktunya kah? Kan masih jam 2 ini… Jam 5 masih jauh… Lagian tadi jam 1 masih bukaan 6, masa tiba – tiba sudah bukaan 10 sekarang? Somebody please explain…

Tak lama kemudian Dokter Keempat tiba – tiba masuk ruangan. Kedua kakiku sudah dinaikkan ke penopang kaki (aku tidak tahu apa namanya alat itu), ranjang pasien sudah disiapkan sedemikian rupa sehingga posisiku sudah memungkinkan bayi keluar dari bawah sana. Dokter Keempat memakai perlengkapannya, menyalakan lampu yang terang, menghadap ke jalan lahirku, dan berkata tenang,

“Sudah Mbak, sudah boleh mengejan sekarang. Ayo…”.

“Belum kepingin mengejan Dok sayanya…”.

“Oh iya, tunggu ada kontraksi dulu ya…”.

Aku bingung. Hah…. senengnya boleh mengejan setelah berjam – jam merasa kepingin pup tapi dilarang keras ngeden. Tapi aku lupa bagaimana cara mengejan yang diajari di sesi senam hamil. Dokter Keempat mengajariku sebentar.

“Mbak tarik nafas dalam lewat mulut seperti ini ya… Haaaaaaafffhhh…. Ditahan sebentar, trus keluarkan nafasnya seperti marah ke arah bawah supaya bayinya keluar…”

Oh ok, aku coba ya Dok… Hmmmmmppphh… Dua kali. Tak berhasil nampaknya. Dokter Keempat membantu.

“Ayo Mbak, Mbak mengejan lagi saya bantu mendorong di perut ya…”.

Aku mencoba lagi. Hmmmmpppphhhh…. Aku lihat ekspresi wajah Dokter Keempat kelihatan senang.

“Ayo Mbak disambung lagi mengejannya…”.

Setelah bengong sebentar, aku mengerti maksud Dokter tentang ‘disambung lagi mengejannya’. Aku harus mengejan jangan terputus karena bayinya nanti akan masuk kembali dan aku harus berusaha lagi dari awal mengeluarkannya. Jadi aku segera ambil nafas lewat mulut dalam  – dalam dan mengejan lagi sekuat yang aku bisa. Hmmmpppphhh…. Suster dan Bidan memegangi kedua kakiku. Kudengar mereka serempak bilang jangan mengejan dengan bersuara karena akan menghabiskan tenaga. Aku tak peduli, yang penting kemudian Dokter Keempat sudah memegang kepala bayiku dan seterusnya ia yang menarik bayiku keluar. Yeeeaaahh…. Bayinya sudah keluar! Jam 02.21 WIB.

Sabtu, 09 April 2011 02.21 WIB.

Bayinya diletakkan di atas perutku. Masih berlumuran darah. Imut, aku ingat rambutnya tebal sekali di kepalanya. Tak lama lalu ia diangkat kembali untuk dibersihkan. Hah, tugasku selesai kali ini. Tak kusangka begitu cepat. 6 jam  merasakan kontraksi dan semua sudah selesai sekarang. Dokter Keempat memberiku selamat.

“Capek ya Mbak? Enak tho kalau normal, cepet selesai”.

Aku tertawa kecil. Jam 03.00 WIB Dokter Keempat meninggalkan ruang persalinan setelah menyelesaikan tugasnya. Aku menunggu pemulihan, jam 05.00 WIB nanti baru aku akan dipindah ke ruang perawatan.

————————————————————————————–

Dokter Keempat adalah Dr. Wiku Andonotopo, SP. OG, Phd. Bayiku lahir di Eka Hospital Tangerang hari Sabtu, 09 April 2011 pukul 02.21 WIB.

2 thoughts on “Minggu ke-38 dan Persalinan

  1. Hi mom, salam kenal…
    Jd dokter keempatnya Dr. Wiku yaa.. Sama dong, saya melahirkan putra pertama dan kedua juga dibantu oleh beliau.. Padahal jarak dari rumah ke BSD jauh, dan banyak pilihan rumah sakit dekat rumah. Tapi tetap bela2in ke eka hospital untuk cek kandungan dan melahirkan di sana. Memang terbukti Dr. Wiku itu Highly recommended yaa.. Anyway, congrats for the baby yaa..

  2. Ini usia kandunganku udh 39 minggu.jadi nggk sabar nunggu baby cepet2 lahir:)

    Sudah lahir dong ya sekarang? Selamat yaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s