Merencanakan Mudik

Tentu saja aku ngeyel mudik di lebaran pertamaku dengan status ‘istri’. Suamiku nampaknya ingin berlebaran di Jakarta, tapi hey… bukannya sudah sering kita bersilaturahmi dengan keluarga Jakarta sejak sebelum menikah? Jadi, di akhir ramadhan giliran mudik ke kampungku.

Sungguh, kalau mengingat mudik, aku ingin menjadi lajang. Aku tak perlu bernegosiasi. Cukup ambil cuti dan wuuuzzzzz…. langsung terbang ke Semarang atau gojes gojes naik kereta. Aku habiskan liburan lebaranku dengan berleha – leha di rumah. Aku cukup membawa ransel biru kesayanganku itu, tak perlu banyak bawa barang. Aku juga tak pikirkan biaya, uang THR ku masih sisa banyak kalau hanya untuk beli tiket pulang balik. Tahun ini, aku harus menunggu suamiku yang liburnya belakangan. Aku sudah libur dan dia masih harus bekerja 2 hari lagi. Pulangnya pun begitu, harus cepat – cepat balik ke Jakarta supaya tidak ketinggalan acara silaturahmi di sini. Suamiku juga tidak mau kelamaan di rumah mertuanya dan tidak ngapa – ngapain. Sedangkan aku malas pergi ke tempat wisata di waktu lebaran karena pasti berjubel. Biaya ternyata mesti dipikirkan supaya tidak tekor pas balik Jakarta nanti. Dan, aku berdoa dengan sangat supaya perjalanan mudik via pantura nanti lancar dan dijauhkan dari kemacetan yang menyebalkan.

— Dari aku yang deg degan menunggu mudik. —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s