Cerita tentang Undangan

Papie saya sudah menentukan hari dan tanggal pernikahan, dan saya hanya mengangguk – angguk mengiyakan. 2,5 bulan lagi sejak palu diketok, tok! Meskipun sempat protes begini begitu, karena tidak ingin terlihat merepotkan orang tua dengan biaya besar dan tidak mau juga terlihat bagai ‘badut’ di acara pernikahan saya sendiri, toh saya akhirnya terdiam dengan satu kalimat yang berwibawa,

“Papie putusken, sekarang Papie dalangnya. Kamu sekarang nurut saja jadi pemain. Di hari H nanti kamu jadi bintangnya”.

Dan, cukup sampai di sini acara ‘ngotot’ saya… Whaaaaa…. Tapi saya pantang menyerah, dan ini adalah permintaan terakhir dari saya,

“Ya sudahlah, Papie atur saja, yang penting Mee tidak mau kelihatan norak di acara nanti. Tapi Mee urus undangan manten dan souvenir sendiri ya….”.

Kalau saya berbicara langsung, pasti saya sudah bergaya dan pasang muka memelas, tapi ini lewat sms. Mungkin kasihan dengan saya, Papie saya mau berkompromi. Yihaaaa… Ups, ternyata Papie saya masih mau mengirim draft undangan versinya sendiri (dengan bahasa ala pujangga Indonesia Baru tahun 1940an…), disertai beberapa pesan emas : tidak usah cari yang mahal, desain yang sederhana saja, yang penting informasi acara dan tanggal jelas, souvenir cari gantungan kunci…

Masalah lain muncul dari calon pasangan saya. Saya sudah dapat desain undangan sederhana dengan harga yang sepertinya paling murah yang bisa saya dapat (kan ini amanat Papie saya…). Saya mau saja pilih yang mahal, tapi sayang sekali kalau memikirkan jumlah uangnya. Kemudian diajaknya saya ke Pasar Tebet, tempat banyak vendor percetakan undangan berada. Pertama – tama model undangan pilihannya masih sesuai dengan budget. Kemudian berganti – ganti model undangan sampai 3 kali (itu artinya kami bolak – balik ke Pasar Tebet juga 3 kali). Terakhir kami bayar dp order, harga model undangan yang dipilih hampir 2x lipat dari budget semula. Revisi setting undangan sampai 3 kali. Sampai mbak yang setting undangan kami bercanda,

“Kalau ganti model lagi, jasa setting-nya saya kenain charge ya, Mbak…”.

Di-browsing-nya situs – situs yang jualan souvenir di internet. Akhirnya kami ngubek – ubek Mester Jatinegara, dan dapat juga souvenir itu. Ide gantungan kunci murah saya (yang sesuai amanat Papie saya), tidak dipertimbangkan…

4 minggu sejak perburuan model undangan dan souvenir dimulai, akhirnya souvenir dan undangan itu siap. Berapa harga finalnya? Souvenir dan undangan Rp 10 ribuan per buah. Saya mangkel, tidak sesuai budget awal yang saya rancang. Bukan saya sih yang membayar biaya souvenir dan undangan, tapi saya tetep mangkel. Dan calon pasangan saya itu bilang,

“Udahlah, ngga pa pa mahal dikit, yang penting kita senang”.

Tidak ada foto di undangan manten saya (saya ngga tega foto saya nanti dibuang ke tempat sampah), saya cuma mau model undangan yang sederhana, dan saya berkompromi dengan selera calon pasangan saya yang memilih undangan berpita. Dia memang lebih centil dari saya rupanya. Warna, tetap pilihan saya, coklat merah bata dipadu dengan krem, dan pita organdi coklat kombinasi emas. Berkesan lembut. Saya suka.

Oh iya. Ilustrasi itu sih bukan undangan saya🙂.

2 thoughts on “Cerita tentang Undangan

  1. blog walking eh, nemu si mba Mee,
    congrat yach, mudah2an lancar, aman dan terkendali.. he..he..
    di mana rencananya mba di sm apa jkt?
    exmul***** udah pada tau belum berita bahagia ini???

    Deee… Pak Himawan, aman terkendali dong, Komandan! Di Sm aja acaranya, kalo sempat silahkan hadir lho bersama keluarga… Belum sempat nyebar nih undangan, via fb aja ntar kali ya…

  2. sedikit saran sai, hehehe…

    Jangan terlalu ribet dengan hal2 yang sebenarnya bisa kita siasati dengan santai… emang si, karena menikah adalah acara sakral dimana -insyaalloh- pengennya dilakukan setahun sekali, jadi biasanya terbawa hawa2 perfeksionis.. tapi believe me.. denga terlalu ngeribetin detail yang sebenarnya bisa kita alihkan ke yang lain, yang ada malahan bikin kita ngga tenang dan akhirnya malah pas hari H jatoh2nya malah sakit…

    aku kayak gitu soalnya… huhuuu.. 3 hari sebelum hari H diriku jatuh sakit, batuk2 ngga ketulungan.. Untung pas hari H masih bisa senyum meskipun mata kuyu banget, kecapek’an…

    disyukuri aja klo si Papie pengen jadi dalang buwat acara Mee.. hehehe.. jadinya fokus kita tinggal ke hal yang lebih penting lainnya… yaitu setelah Wedding Day… karena kita yg giliran jadi dalangnya.. hehehe

    Iya tuh Jeung, benul alias benar dan betul… Enak juga ntar tinggal datang trus jadi nikah karena udah ada yang atur persiapan acara di rumah hehehe…. Hidup Papie!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s