Ibu Mee Sakit

Tengah malam itu mata saya baru terpejam sekitar 3 jam, ketika tiba – tiba suara Ibu saya terngiang – ngiang memanggil setengah menahan tangis sambil memegang perutnya,

“Mee, Mee… Bangun… Perut Ibu sakit…”

Saya langsung bangun dan memapahnya berbaring di tempat tidur yang barusan saya tiduri.

Lha kenapa, Bu?

Ngga tahu… Biasanya Ibu juga bisa nahan sakit. Tapi sekarang kok ngga tahan… Sakiiiiit banget. Usus buntu kali ya…

Mau ke Rumah Sakit aja biar diperiksa? Mee bangunin Papie ya?

He-eh.

Hari itu Ibu tidak jadi ke Rumah Sakit. Saya memberinya obat nyeri, obat pencahar, dan mengompres perutnya dengan kompres hangat. Katanya lumayan. Hari besoknya Ibu saya sudah bisa tertawa – tawa.

Ternyata penyakitnya cuma ngga bisa kentut dan BAB ya… Ha ha ha…

Papie saya meledek,

Gitu aja kok sampai nangis…

Kemarin sore, Ibu saya kesakitan lagi. Keluhannya bertambah dengan rasa anyang – anyangan, susah buang air kecil.

Ya sudah, kali ini kita ke Dokter ya. Ke mana? Rumah Sakit yang dekat rumah itu saja ya?

Engga di situ, Mee. Ibumu sudah ada Dokter langganan. Lagian kan masih memanfaatkan fasilitas kantor Papie. Nanti, Dokternya baru praktek jam 5 sore.

OK. Jadi jam 16.30 kami berangkat ke praktek Dokter BP, dokter saya juga semasa kecil. Dokter instansi tempat Papie saya bekerja dulu.

Ibu saya sakit batu ginjal. Itu yang membuatnya merasa sakit perut di bagian bawah, dan terakhir jadi susah buang air kecil. Dokter langsung memberi rujukan rawat inap saja, Papie saya juga setuju. Tapi Ibu saya tidak.

Ngga mau, mosok lebaran – lebaran malah di Rumah Sakit…

Jadilah orang tua saya nego dengan Dokter BP.

Kalau 5 hari obat habis dan keluhan tidak berkurang, ngga bisa ditawar lagi ya rawat inapnya.

Siang tadi, Ibu saya sudah lincah motong dan mencabuti bulu ayam, memasak ketupat, opor, dan sambal goreng hati. Masih juga ngeyel ikut puasa, meski saya larang supaya bisa terus minum obatnya. Sepertinya sakitnya yang kemarin langsung dilupakan.

Semoga cepat sembuh ya, Bu!

5 thoughts on “Ibu Mee Sakit

  1. Salam Takzim
    Berkelana di dunia maya, mencari sisi lain fungsi internet, yang murah dalam mencari kenalan, agar tercipta menjadi saudara..
    Bunda izinkan saya mengetuk pintu, agar terterima menjadi deretan insan yang memerlukan petuah dari bunda, dan memberikan kritik manakala bergeser.. terimalah bunda
    Salam Takzim Batavusqu

    Terima kasih berkenan mampir ke sini… By the way, saya belum menjadi ‘Bunda’ loh…🙂

  2. bisa jadi juga takut diinapkan, jadi disehat2kan…..hehehhe….
    maaf lahir batin Jeng…apa kabar?

    Bisa jadi begitu Bu Endang… Insha Allah sudah sehat betulan, ngga perlu rawat inap. Mohon maaf lahir batin juga ya Bu… Kabar baik. Terima kasih halal bi halalnya nih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s