Ketika Menunggu Batavia

Ini kali pertama kepulangan saya dengan melayang di udara. Mempertimbangkan kondisi badan yang masih rapuh, saya berburu tiket pesawat untuk mudik. Batavia Air akhirnya terbeli, yang paling sesuai budget.

Belum saya putuskan apakah saya akan pakai lagi maskapai ini di lain waktu. Jam karetnya membuat tekanan darah saya meninggi. Meski begitu, tidak ikut saya dalam huru hara para calon penumpang yang emosinya sudah meninggi. Saya pikir percuma, hanya ada staf lapangan yang ‘ndingkluk’ tak berdaya dibentak banyak orang, ketika mereka tahu faktanya bahwa pesawatnya tidak ada. Mereka pun tidak bisa beri informasi yang akurat. Ke mana para middle manager nya? Yang ngurusi jadual penerbangan, atau yang berani bertanggung jawab kalau ditanya pelanggan belagu macam saya.

“Kalau memang tidak mampu menyiapkan pesawatnya tepat waktu, kenapa berani jual/ buka jadual penerbangan yang jam ini?”

Tak terpikirkan oleh mereka bagaimana para penumpang zig zag di tol yang macet karena hujan mengejar jadual, atau tiket bakal hangus. No way! Sedekah kok sama Batavia Air. Sama sekali jauh dari harapan saya tentang ‘good customer service’. Paling banter, akan ada air mineral dan roti manis selagi menunggu. Dan permohonan maaf dari Captain dan mbak Pramugari, ketika di kabin pesawat. Hebatnya, hal yang sama terulang lagi pada penerbangan kembalinya dari Semarang menuju Jakarta. Tidak lebih lama, dan saya juga sudah siap mental duluan.

3 jam itu saya lewati dengan mengobrol dengan seorang Bapak yang duduk di sebelah saya.

Saya kira yang tadi itu Bapaknya Mbak.

Bukan. Memang mirip sama saya?

Mau ke Semarang?

Iya.

Memang orang Semarang?

Iya.

Sudah lama di Jakarta?

8 tahun.

Bekerja?

Iya.

Gajinya besar?

— Saya jadi batuk – batuk, serak —

Beruntung juga Mbak ini bisa kerja di Jakarta.

Biasa aja, Pak. Buruh.

Sudah menikah?

Belum.

Aduh kasihan…

@@#%^!&^%^%^>$#@

Baik – baiklah, Mbak. Perlu itu yang namanya cari jodoh yang baik. Cari yang konglomerat kalau bisa…

Saya berusaha tertawa merespon gurauannya, demi kesopanan. Nada tertawa saya saat itu pasti fals.

2 thoughts on “Ketika Menunggu Batavia

  1. Ati2,tar d’cekal kayak bu Prita hluw… Hahaaa… =p
    Kekhawatiran nyang sama… Kupikirkan nanti sajah lah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s