Antara Shower dan Gayung

Saya ini wong ndeso. Mandi pakai shower (atau saya menyebutnya ‘pancuran’) boleh dibilang jarang di habitat saya. Kegiatan mandi ya di kamar mandi yang ada kran ledeng, bak, dan gayung (atau saya menyebutnya ‘cidhuk’). Pancuran itu kan adanya di hotel – hotel dan rumah mewah. Di rumah saya ndak ada.

Di rumah kos saya yang lama, saya pernah membeli pancuran dengan harga terjangkau. Ketika itu ada teman serumah yang agak jorok, sehingga saya tidak tega mandi dengan menggunakan air bak. Menguras bak dan mengisinya dengan air baru setiap kali akan mandi jelas bukan kegiatan yang efisien, dan tentu saja : bikin capek.

Mumpung ketika itu juga sedang banyak artikel tentang mandi ala pancuran yang irit air. Saya jadi ikut berpartisipasi menyelamatkan lingkungan untuk masa depan kan… Save the water, save the earth. Keren.

Tetap saja saya lebih menikmati mandi ala bak dan gayung. Bisa cibang cibung.

Di rumah kos baru saya yang mempunyai motto ‘rumah kos ala hotel’ ini hanya menyediakan pancuran. Tersedia air dingin atau panas.

Saya kira adegan semalam hanya bisa terjadi di komedi situasi ala Mr. Bean.

Badan saya masih penuh busa sabun ketika saya sadar pancuran tidak lagi mancur. Saya buka semua kran. Kran dingin, nihil. Kran panas, nihil. Kran ledeng, nihil. Kran bidet, nihil juga.

Oh, saya jadi kangen bak dan gayung.

Acara mandi segera diulang setelah komplain dengan pengurus rumah dan air sudah mancur kembali. Jam 21.30.

One thought on “Antara Shower dan Gayung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s