Penghuni Terlama Itu Akhirnya Menyerah

Saya bukanlah tipe orang yang sering berpindah tempat tinggal. Ketika sewaktu kuliah Papie saya merestui keinginan saya kos, saya girang bukan main. Kemudian, saya diantar dengan Papie dan Ibu saya berburu rumah kos. Seharian. Rumah kos yang direstui orang tua saya itulah yang saya tinggali selama 4 tahun kemudian, sampai saya lulus kuliah. Tidak pernah terpikir untuk pindah.

Walau begitu, di awal pencarian saya selalu sudah menerapkan ‘standar’ rumah kos yang akan saya tinggali.

  • Saya paling males dan ngga mau antri kamar mandi. Apalagi, saya termasuk orang yang mandinya lama. Senang cibang cibung main air, keturunan ikan. Jadi paling tidak, jumlah kamar mandi dengan jumlah penghuni harus seimbang.
  • Ngga susah air. Saya sudah bilang belum kalau saya keturunan ikan?
  • Kamar harus berjendela atau paling tidak  banyak cahaya masuk meski tanpa menyalakan lampu. Sepertinya, saya menderita phobia jika berada di ruang sempit, redup, dan berkesan membuat sesak nafas.
  • Sedapat mungkin cari rumah kos yang khusus menerima penghuni perempuan.

Terdampar di Jakarta. Rumah kos yang sudah saya tinggali sudah 3 tempat. Semuanya berjangka waktu minimal 1 tahun. Alasan pindahnya adalah masalah air. Ada yang kelebihan, ada yang kekurangan.

Rumah terakhir ini, saya huni 5 tahun. Dari Pemilu terakhir sampai sudah mau Pemilu lagi tahun ini. Saya penyewa terlama di rumah itu. Rumah dengan ukuran cukup besar, dihuni oleh pemilik rumah beserta 3 orang anaknya. Dan ada 4 kamar untuk disewa, dengan 3 kamar mandi, air yang muncar – muncar dan jernih sekali, cahaya matahari yang berlimpah ruah, jendela kamar yang besar, dan lokasi di tepi jalan besar yang tidak terlalu ramai. 

Plus… ada bonus spesial : ibu kos yang ‘istimewa’.

Sepertinya, inilah salah satu faktor yang menyebabkan seringnya para penyewa tidak bertahan lama. Meskipun saya tidak terlalu tahu (dan memang tidak mau tahu) apa yang menyebabkan mereka begitu cepat pindah. Semuanya pergi dengan muka dilipat dan tegang. Beberapa pindah saat pemilik rumah tidak ada, menghindari acara berpamitan. Ada penghuni yang melempar kuncinya dari jarak jauh ke arah pemilik rumah (yang menurut saya pelemparan itu bermakna sama dengan ‘mengembalikan’). Saking ogah berkomunikasi dan melakukan eye contact dengan ibu kos. Entah apa yang terjadi, sampai berefek pada perbuatan yang kurang beretika seperti itu.

Kok saya bisa?

Saya adalah tipe manusia cuek. Saya tidak pernah mau berurusan dan menggubris apa yang ibu kos saya keluarkan dari mulutnya. Berhubung saya dulu diterima dengan tangan terbuka sebagai penyewa oleh suaminya yang ramah dan baik hati itu. Walau begitu, saya selalu berusaha menjalin hubungan baik. Memberi bayinya kado kelahiran, atau membawakannya oleh – oleh seadanya ketika ritual mudik tiba adalah hal yang biasa saya lakukan.  Obrolan yang mengarah pada gosip tidak jelas tidak saya layani, saya akan cepat berpamitan supaya gosip tidak bertambah panjang.

Selama saya tidak berlaku tidak sopan, selama saya membayarkan kewajiban tepat waktu sesuai kesepakatan, selama saya tidak diusik, mulut yang judes dan ‘keistimewaan’ ibu kos tidak saya anggap mengganggu.

EGP. Elo – elo. Gue – gue.

Oh iya. Rekor penghuni terlama yang saya pegang tidak hanya jika dibandingkan dengan sesama penghuni kos, tetapi juga dengan para kandidat pekerja rumah tangga. PRT terlama yang tahan bekerja di rumah itu adalah 1 tahun 6 bulan. Itupun karena dia merasa memiliki saya sebagai teman curhatnya setiap malam, yang mau mendengar keluh kesahnya tentang majikan ‘istimewa’ yang begini dan begitu. Dan karena ia memiliki motivasi yang kuat, sekuat hatinya bertahan kerja demi biaya sekolah dan uang jajan anak – anaknya.

Meski sebelumnya saya berencana akan bertahan sampai 6 bulan ke depan, dan kemudian akan langsung pensiun saja sebagai anak kos atau penyewa atau kontraktor, ternyata saya tidak sanggup. Sebetulnya, malas sekali pindahan dengan barang yang sudah lumayan banyak itu! Tapi saya sudah merasa diusik dengan karakter ‘istimewa’nya, dan itu membuat saya tidak lagi bisa merasa nyaman. Reseh sekali, hobi kok membesar – besarkan masalah yang memang tidak besar.

Jadilah bulan Maret ini menjadi bulan terakhir saya tinggal di rumah itu.

Duh… saya bakal kangen berat sama balita laki – laki lucu yang tiap week end menyambangi kamar saya itu.

Kemarin, saya sudah pindah ke sebuah rumah kos megah yang masih baru, terdiri dari 80 kamar, dan baru terisi 11 kamar saja, sampai 6 bulan mendatang. Bahkan, baju dan barang harian sudah saya pisahkan, supaya tidak ada lagi kegiatan bongkar – bongkar dan kemas – kemas pindahan lagi 6 bulan yang akan datang. Capek.

Kali ini, rumah yang tanpa ibu kos reseh. Bahkan, bayar uang sewa pun bisa wire payment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s