Papie

Saya terlahir sebagai anak bungsu. Manja? Tidak. Kalau paling galak, iya.. dan keras kepala.

Sedari kecil saya lebih akrab dengan Ibu daripada Papie, karena Papie saya dulu banyak tugas keluar kota, jadi jarang ada di rumah. Berbulan – bulan ke Kalimantan. Kemudian berbulan – bulan lagi ke daratan Sumatera. Idul Fitri tanpa beliau pernah juga saya alami. Dan sebagai anak bontot, sayalah bungkusan yang wajib ditenteng oleh Ibu saya ke mana – mana. Ketika Papie ada di rumah, saya juga tidak lalu ngelendot bermanja – manja dengannya. Tapi malah maen ke rumah tetangga. Sampai usia 8 tahun, rasanya saya tidak punya gambaran yang pas seperti apa Papie saya. Ingatan saya hanya dari foto – foto yang sering saya buka – buka.

Pernah sekali, waktu usia saya 4 tahun, saya adalah anak paling muda usianya di komplek perumahan. Ketika itu jam 2 siang, anak – anak se-gang berkumpul di jalan ujung gang akan memulai sebuah permainan. Ketika kami bergerombol membentuk lingkaran hom pim pah, seorang laki – laki membawa tas koper pulang kerja, dan menyentuh puncak kepala saya. Mungkin waktu kecil saya menggemaskan. Saya spontan menoleh kepada laki – laki itu dan mengikutinya, berusaha menggandeng lengannya sambil berteriak girang.

“Yeee… Papie pulang….”.

Kemudian setelah beberapa langkah, dengan malu saya kembali ke lingkaran hom pim pah, setelah kakak saya berteriak memanggil berkali – kali.

“Mee… Mee… itu bukan Papie!”

Sewaktu saya sekolah Taman Kanak – kanak, saya melihat teman – teman saya ke sekolah diantar ayahnya, ibunya, atau bahkan dua – duanya. Sedangkan saya sesekali diantar Pak Lik naik sepeda, sesekali diantar Ibu saya kalau pas ada keperluan membayar sejumlah uang, kadang – kadang cukup bareng kakak saya yang kala itu sudah duduk di Sekolah Dasar dan lokasi SD nya adalah persis di samping TK saya. Suatu siang, ketika berjalan santai sepulang sekolah sambil berpayung ria karena gerimis, saya bertanya.

“Ibu, kapan Papie pensiun?”

“Masih lama, kenapa?”

“Mee pengen juga sesekali diantar Papie ke sekolah, seperti teman- teman. Ibu lihat, kan?”

Ini adalah cerita favorit Ibu saya. Ketika saya beranjak remaja, cerita ini sering diulang oleh Ibu saya di ruang keluarga, dan semua orang akan tertawa. Kata Ibu saya, beliau sedih saat saya menanyakan hal itu.

Setelah saya kelas 4 SD, Papie saya sudah sering di rumah, tidak lagi banyak dinas ke luar kota atau luar pulau. Kegembiraan ala anak – anak saya dimulai. Setiap pagi, saya berangkat sekolah bareng Papie berangkat ke kantor, ketika sekolah saya masuk pagi. Setiap sore minta dijemput, apalagi kalau hujan, ketika sekolah saya masuk siang. Ibu saya kemudian berkomentar.

“Cita-cita Mee tercapai sekarang!”

Tahun – tahun sesudah itu, saya mulai merasa ‘kenal’ dengan Papie. Sewaktu SMA, jika saya pulang malam karena sebuah kegiatan ekstra kulikuler, Papie akan menjemput saya di ujung jalan besar pakai motor. Beliau juga mengantar saya mencari lokasi tes UMPTN, mengantar saya mendaftar universitas swasta di luar kota, mengantar dan menemani sampai selesai sewaktu daftar ulang, ikut begadang repot mencari barang aneh semasa Ospek, mencari kos – kosan, mengantar saya tes dan wawancara kerja, langsung bertolak ke Jakarta ketika saya kena Demam Berdarah… Ternyata setelah dewasa saya lebih dekat dengan Papie… Sekarang pun, kalau saya sedang mudik dan ingin putar – putar atau dolan ke rumah kawan – kawan saya, Papie saya menawarkan.

“Diantar Papie atau pergi sendiri, Mee?”

Itu di luar kebiasaan selalu menjemput dan mengantar saya di stasiun kereta. Saya pernah mudik tanpa memberitahu dan naik taksi dari stasiun sampai rumah, malah kemudian saya diomelin.

Oh ya, saya menulis entri ini karena hari ini saya tiba – tiba kangeeeeen Papie saya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s