Perlu atau Tidak : Credit Card

Seringkali saya dapat telepon penawaran Credit Card (seterusnya disingkat CC aja) dari Bank Anu, Bank Itu, Bank Ini, dsb. Gratis, ndak pake mbayar iuran tahunan (tahun pertama thok), faks saja CC yang sudah dipunyai, dan KTP. Kadang disertai permintaan memelas dari salesmannya.

“Bu, tolong bantu saya ya… Ibu buat aplikasi saja, nanti masalah disetujui atau tidak, kan harus dianalisa lagi”.

Laaaah… data saya cuma buat performance kerja orang doang… Gampang banget sekarang bikin CC. Kalo abis belanja di Carrefour atau Tip Top pake CC, pasti langsung ada sales CC yang nyamperin, sambil bawa boneka souvenir, nawarin CC baru. Kartu Visa pertama saya yang dibuat 5 tahun yang lalu, masih pakai sistem konvensional. Bikin form aplikasi, ditelepon sana sini, disurvey, baru disetujui. Bukan buat gaya – gayaan, saya mempertimbangkan beberapa hal waktu akan membuat CC :

  1. Untuk kondisi darurat. Terbukti, waktu saya kena DBD dan harus rawat inap, belum pake Asuransi Kesehatan. Sedangkan tunjangan kesehatan dari kantor adalah sistem reimbursement. Menurut saya, Rumah Sakit adalah salah satu layanan untuk masyarakat yang terkeji. Untuk mendapatkan ruang perawatan, pasien harus ada deposit minimal 3x harga kamar, baru pasien akan diperbolehkan masuk rawat inap. Oke, kalau begitu perlu uang Rp 1,2 Juta. Di dompet saya ndak pernah ada uang sebanyak itu, paling banter Rp 500 Ribu. Masa mau ke ATM, sedangkan berdiri 2 menit saja ambruk. CC lah penyelamat saya waktu itu. Untung RS itu bisa terima Visa. RS Pemerintah, benar – benar minta hard cash. Sadis kan?
  2. Kalau bepergian ke luar negeri, dan kepepet ngga ada/ kehabisan uang lokal. CC sangat membantu.
  3. Ndak perlu bawa uang banyak ke mana ingin belanja.
  4. Bisa dipakai gesek mbayar booking fee waktu beli rumah. Buat apa bawa tunai Rp 3 Juta jalan – jalan survey lokasi perumahan? Sangat tidak disarankan.

Tapiiiii, memang harus disiplin banget. Bayar tepat waktu. Kalau tidak, kita bakal bayar bunga terus menerus. Anggap saja CC itu alat bayar sementara, setelah terima tagihan, langsung lunasi sebelum due date. Atau rencanakan untuk melunasinya 2x atau 3x. Atau manfaatkan fasilitas bunga flat untuk belanja dari katalog.

Lha kok banyak yang terjebak hutang CC? Lha itu orang – orang yang menganggap CC adalah Sinterklas dadakan yang nyebarin duit. Kata pakar keuangan, cicilan hutang itu ndak boleh lebih dari 30% dari gaji kita. Makanya, konon di Indonesia pertumbuhan nasabah CC sangat signifikan. Pada demen utang😉.

Ndak perlu punya CC berderet. Saya punya 3, yang satu mau saya tutup, soalnya jarang saya pakai. Dua saja cukup dipakai gantian, cari yang reputasinya baik, atau yang biaya iuran tahunannya agak rendah, atau bunganya lebih rendah.

Ndak perlu yang plafond-nya tinggi. Malah ngeri, pengennya ngutang mulu… Atau sekali CC itu dijebol orang, ngga rugi terlalu banyak. Kalo yang masih lajang seperti saya, limit Rp 8 Juta itu sudah bagus dan cukup.

Simpulkan sendiri, perlu atau tidak punya CC?

3 thoughts on “Perlu atau Tidak : Credit Card

  1. saya ndak pernah mau make CC….pernah sekali punya krn kasian ama yg nawarin, trus dipake cuma 500rb, dibayar nyicil…..eeeeeh, yg hitungan saya harusnya udah lunas kok msh ditagih terus. sejak itu makin musuhan deh ama CC.

    Saya ndilalah belum pernah ada acara sulit sama CC. Hoki kali ya? Tapi kalo yang rese gitu ya patut dijadikan musuh kok, Bu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s