Saya dan BLT

Sabtu siang itu saya pulang belanja. Gaya, mau mencoba memasak. Jangan tertawa, saya masih mengandalkan bumbu jadi dari Indofood. Tinggal cemplung cemplung cemplung, beres… Teman saya kaget sewaktu saya bilang sedang memasak dalam suatu dialog sms.

“Banyak perubahan kamu ya… Udah siap jadi ibu rumah tangga rupanya?”.

Hawa yang panas terasa makin panas karena mikrolet yang saya tumpangi berhenti, membuat saya jengkel. Tumben, ngga biasanya macet di sini. Di dekat rumah saya di bilangan Rawamangun ada Kantor Pos yang terbilang masih baru. Ternyata macet berat, karena ada pembagian BLT di Kantor Pos itu. Orang – orang itu antri panjang sampai ke jalan. Dan sebagian ruas jalan dipakai untuk parkiran sepeda motor. Yang punya motor itu masih antri BLT juga ya? Sedih saya. Dan serta merta bersyukur, saya masih bisa belanja untuk saya masak hari itu.

3 thoughts on “Saya dan BLT

  1. Ah iya…..banyak yg gak bersyukur dan selalu merasa malang serta memiskinkan diri……kasian yg benar2 miskin…..

  2. masyarakat di negara kita pendidikannya masih amburadul. dikasih blt bukannya dipake buat modal usaha, malah dipake hura2.
    capek deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s