Bagaimana Anak – Anak Masa Kini Bertumbuh?

Perbincangan saya dengan sahabat sewaktu makan siang di daerah Setiabudi. Kami memang dari jaman kuliah dulu sering bertukar cerita. Cerita dari masa kecil kami, cukup seru untuk diceritakan kembali. Bagaimana kami juga merasakan iri terhadap teman yang mainannya lebih canggih, rumahnya lebih megah, bagaimana kami ingat orang tua kami memasak masakan kampung yang susah kami temukan di rantau.

Di suatu episode perbincangan saya membagi cerita tentang ‘calon keponakan’. Ketika ia kami ajak jalan – jalan, pada saat jam makan siang, sambil melompat – lompat riang seperti anak kelinci ia bilang ingin makan siang di ‘restoran’.

“Ngga, kita akan makan siang di warteg”, pacar saya mencandainya.

Jawabnya, ” Ih… kok warteg sih. Pokoknya maunya di restoran. Harus yang bagus”.

Dan lalu disambungnya dengan menyebutkan beberapa nama restoran waralaba terkenal yang bertebaran di Jakarta, disusul dengan nama – nama masakan Jepang yang saya sendiri tidak hafal. Saya cuma tersenyum geli, dan ia memang manja dan centil. Hebat anak – anak sekarang. Saya dulu, minta sama siapa ya untuk makan di restoran… Saya rasa gaji papie saya sebagai PNS tidak akan pernah cukup untuk membayar nota restoran itu.

Sahabat saya menyambung dengan cerita yang tak kalah seru. Keponakan kecilnya yang baru berusia 5 tahun, sanggup menghafal merk mobil yang dipakai masing – masing orang tua saat menjemput teman – teman sekolahnya. Dari Honda Jazz sampai Stream, sanggup mendeskripsikan bahwa Stream bodinya tidak setinggi Kijang tetapi juga tidak serendah sedan. Ia tidak mau diantar pakai motor bebek Honda Supra oleh ayahnya ke sekolah. Maunya kalau tidak pakai mobil, ya minimal motor Honda yang bukan jenis bebek. Kakak keponakan kecil itu lain lagi. Ia bersemangat sekali mengajak buliknya mengunjungi restoran cepat saji yang baru dibuka di kota tempatnya tinggal.

Kami jadi terdiam. Masing – masing sibuk memikirkan kemampuan finansial kami sendiri. Bagaimana kabar anak – anak kami kelak jika semua itu tidak sanggup kami penuhi? Saya dan sahabat saya masih setia dengan jalan kaki, ngemil mendoan hangat, mengobrol tentang budin dan munthul (ada yang tahu makhluk apa ini?), diskusi tentang sayur jantung pisang, memesan es dawet ayu Banjarnegara… Mungkin anak – anak kami kelak akan protes kepada ibunya : Ibu ngga keren!

5 thoughts on “Bagaimana Anak – Anak Masa Kini Bertumbuh?

  1. berikan contoh bukan perintah pada anak-anak…ga nyambung yah komentarku he he
    numpang pesen es dawet mba

    Betul, memberi contoh yang baik memang pelajaran yang paling ideal dan akan mudah ditiru anak – anak. Suka lewat tuh, Mbak, es dawet dorongan di Setiabudi. Nanti saya pesenin satu…
    -Mee-

  2. mendoan dijadikan cemilan? waduh bisa kenyang yak

    Iya memang kenyang banget, tapi saya juga jarang menjadikan mendoan sebagai lauk makan utama, biasanya teman minum teh aja sambil ngobrol. Itu namanya cemilan kan?
    -Mee-

  3. tergantung gimana kita ngajarinnya dgn cerita dan perbuatan kali ya….. kita sendiri, begitu sudah pegang uang sendiri hasil kerja kadang pengen makan yg enak di restoran krn dulu gak bisa….. kan anak kita ajak. Jadi? ya kita harus rajin membuat keseimbangan aja…….

    Wuaaa… nasehat bijak dari Ibu bijaksana. Matur nuwun, Bu… Iya, nanti jika saya punya anak, saya akan ajarin dia dengan keseimbangan…
    -Mee-

  4. Kalau saya sih selalu terus terang kepada anak-anak. Kalau pas lagi ngga ada uang saya bilang, “mama tidak ada uang…nanti kalo makan di sushi terus, riku ngga bisa sekolah, ngga bisa nonton tv…”
    Dan biasanya malah dia yang pilih tempat makan murah atau malah ngga mau diajak makan di luar. Dia bilang”mama masak lebih enak” cieeee… bukan mau mamer sih, tapi memang budaya konsumtif seperti di jakarta sulit diberantas. Padahal bapak-ibunya bayarnya juga kredit (pake kartu kredit kan?). Kalaupun mampu untuk makan di resto mahal, bedakan saja untuk event-event tertentu, misal ulang tahun atau naik kelas. Kalau tidak ada event jangan ke resto mahal.

    Untung juga di tokyo sini, restoran mahal pun beda harganya siang dan malam. Jadi kalo kita mau makan di resto mahal, pergilah siang-siang hari biasa….

    Saya kangen makan bakso toktok, bakwan malang, es teler…semua yang murah meriah… karena di sini ngga ada. Kalau mudik pun nyarinya yang gituan.

    ohhhhh mendoan… hiks

    Kangen mendoan ya…
    -Mee-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s