Masih Bertanya

Susahnya menjalin hubungan. Terutama kalau dua – duanya memang mau serius. Apa sih yang masih mengganjal? Saya juga bingung. Adalah cita – cita saya untuk bisa mandiri setelah menikah. Paling tidak sudah siap dengan 3 kebutuhan primer : pangan, sandang, papan. Iya dong, kalau tidak begitu, sia – sia saya menunda untuk sebuah pernikahan sampai saya 30 tahun. Bukan untuk menjadi materialistis, bukan untuk sok gengsi, bukan takabur tidak percaya akan konsep rizki adalah di tangan Tuhan, tapi keinginan ini sudah ada sejak jaman saya masih pakai seragam ke sekolah. Keinginan membangun pondasi yang kuat sebelum memutuskan untuk berkeluarga. Setidaknya, saya ingin berjalan dengan laki – laki yang memiliki cara berpikir yang sejalan.

So, dia sudah jujur. Saya pun begitu, mengungkapkan keinginan dan harapan saya akan sebuah “sistem keluarga”. Tapi kok rasanya masih terus terapung ngga jelas gitu, menurut saya lho… Ngga tau deh menurut dia. Sabtu malam yang lalu, di sofa Blitz Megapleks, dia masih datang dengan pertanyaan yang sama : “Mau kamu menerimaku apa adanya?”. Saya cuma diam dan tersenyum simpul.

Mungkin saya akan merasa lebih nyaman mendengar pernyataan begini : “Tenang sayang, kamu akan baik – baik saja bersamaku nanti. Kita akan hadapi kehidupan ini berdua. Berdiri saja di sampingku dan akan aku taklukkan dunia ini untukmu”.