Perempuan Lajang

Iseng saja ketika saya mengetik keyword “perempuan lajang” di kotak pencarian weblog google. Dan keluarlah blog – blog menarik yang ditulis para perempuan lajang. Satu yang saya baca adalah weblog yang berwarna ungu nge jreng dan ijo pupus royo – royo. Yang seketika membuat paper work di atas meja kerja saya berubah menjadi berwarna keijo – ijoan setelah saya beralih pandangan dari monitor ke tumpukan kertas kerja itu.

Senyum – senyum kecil saya membenarkan apa yang saya baca, mungkin secara tidak sadar saya juga manggut – manggut sesekali. Bukan, saya bukan sama persis seperti mereka. Gaji saya belum belasan juta, tampang saya juga ngga ada cipratan sedikit pun gen Eropah, belum pernah juga menginjak negara lain untuk studi atau bekerja. Mungkin hanya kisaran umur saja yang mirip, juga keinginan mendapatkan pendamping hidup seorang laki – laki baik. Tapi apa yang mereka tulis di sana, saya juga mengalami.

Menggelitik sekali pernyataan bahwa perempuan ‘harus’ matre, supaya laki – laki merasa ‘berkuasa’ dan ‘dibutuhkan’. Tapi begitulah kenyataannya. Laki – laki akan merasa benar – benar menjadi ‘laki – laki’ kalau dia dimintain tolong, dimintain kontribusinya untuk berperan. Saya mengalaminya. Saya pernah di-‘komplain’ karena kemandirian saya, dan diberi label sebagai perempuan yang masih senang akan kesendirian dan kemandiriannya. Saya juga diminta untuk berubah. Dan betul juga apa yang ditulis sebuah komentar di sana : “senjata cewek untuk menaklukkan cowok adalah kepasrahan dan ketaklukannya”.

Dan belajar untuk menjadi tidak terlalu mandiri, takluk, dan pasrah, adalah salah satu mata kuliah terberat yang saya ikuti. Belum tahu kapan bakal lulusnya🙂.

 

One thought on “Perempuan Lajang

  1. Saya laki-laki dan saya akan mengemukakan pandangan saya dalam kacamata laki-laki atas tulisanmu.
    Menurut saya baik laki-laki dan perempuan yang masih memilih jalan untuk sendiri/ jomblo atau enggan memiliki ikatan komitmen/ pacaran memiliki alasanya masing2 dan mungkin bisa sama seperti yang kamu tuliskan “Menggelitik sekali pernyataan bahwa perempuan ‘harus’ matre, supaya laki – laki merasa ‘berkuasa’ dan ‘dibutuhkan’. Tapi begitulah kenyataannya. Laki – laki akan merasa benar – benar menjadi ‘laki – laki’ kalau dia dimintain tolong”, laki-laki yang memilih njomblo pun memiliki alasan yang sama “jangan ada tendensi kelaki-lakian dari perempuan” dan masih menurut saya yang justru hal itu membuat batasan dalam diri masing2, dengan memberikan tendensi2 yang sebenarnya biasa saja dalam sebuah relasi. Maka nya saya tidak heran dengan adanya laki-laki dan perempuan yang memilih jalan njomblo walaupun sudah berumur. Thanks.

    Trims komennya. Jadi saya perlu belajar ‘matre’ dan ‘meminta tolong’.🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s