Memilih Seseorang untuk Curhat

Beberapa hari yang lalu, Opa teman chat saya mengirimkan pesan. Pesan yang membuat saya agak kebingungan dan merasa tolol untuk berani mengaku sebagai ‘teman’.

“Sudahkah kamu bicara dengan kawan baikmu akhir – akhir ini, sayang? Dia sangat mungkin membutuhkanmu. Dia mengatakan sedang bersedih”.

“Beberapa hari ini memang saya tidak on line, YM Id saya juga tidak aktif. Oh, Opa… Apa yang terjadi dengan kawan saya? Saya sudah meneleponnya tetapi tidak tersambung. Saya akan membenci diri saya sendiri kalau ada tragedi besar menimpa kawan saya itu dan saya tidak tahu menahu sedikit pun…”.

Opa tidak menjawab, dengan bijak dia bilang akan lebih baik jika kawan saya sendiri yang menyampaikan perihal kesedihannya kepada saya.

Tidak sampai tujuh menit mencoba redial, saya akhirnya berhasil menelepon kawan saya itu. Saya tanyakan kabar. Saya ajak mengobrol. Saya sampaikan rencana saya berlibur panjang bulan Agustus nanti. Saya melucu. Hey, tidak ada kesedihan di nada suaranya. Pelan – pelan saya sampaikan chatting-an saya dengan Opa.

“Jadi, kamu sedang bersedih tentang apa saat ini?”.

Ternyata tidak ada. Kawan saya bilang itu hanyalah curhat bodohnya tentang makhluk bernama laki – laki yang dipicu oleh sindrom pra menstruasi. Dan dia malah geli karena Opa serius menanggapi sampai memberitahukan masalah itu ke saya.

Duh kawan… Sekedar saran, pilih – pilih dong kalau curhat… Meski jauh, saya selalu ada. Kamu tinggal sms, telepon, atau kita bisa chatting pakai YM. Jika saya jadi kamu, saya tidak akan curhat sama Opa, karena dia punya istri seorang perempuan seumur kita. Menghindari kemungkinan hal – hal buruk saja…