Yasmine ke Museum

Anak perempuan 8 tahun yang cantik ini manja, dan centil, tentu saja. Hari Minggu lalu dia ikut kami mengunjungi museum – museum di daerah kota. Saya baru ngeh, anak – anak sekarang bahkan tidak mengerti apa itu museum. Tempat apaan sih museum itu? Yakin nih mau ikut ke museum? Saya sih memang kepengen melihat museum Jakarta yang belum pernah saya kunjungi, ingin tahu apa saja sih yang dipajang di sana?

“Jadi bete nih!”, katanya nge-rumpi dengan kakaknya lewat telepon ketika kami beristirahat duduk di sebuah bangku di dalam Museum Wayang. 

Terus – terusan batuk – batuk kecil berdehem – ehem sebagai isyarat supaya kami cepat keluar jangan lama – lama di dalam ruang museum karena hawanya yang pengap. Tapi mau juga masuk lagi ke Museum Bank Indonesia (Yasmine menyebutnya Museum Duit) untuk bermain permainan “Menangkap Koin” sambil ngadem. Memang betul, jika semua museum di buat menarik seperti di Museum Bank Indonesia, pasti akan banyak anak – anak yang tidak menolak diajak ke museum.

Museum Jakarta, Museum Seni Rupa, dan Museum Wayang kalah menarik untuk dikunjungi dengan Museum Nasional (atau Museum Gajah?). Museum di Keraton Kesultanan Jogjakarta juga bagus. Mungkin memang saya lebih suka melihat barang – barang seni, arca – arca, perhiasan – perhiasan, keramik, lukisan, yang seperti itu lah. Ditambah ada cerita menarik mengenai benda – benda seni itu. Paling tidak, mengunjungi Museum Nasional dan Museum Keraton Kesultanan Jogjakarta tidak membuat saya sesak napas, karena bersih dan lebih terawat.

Yasmine masih sempat menelepon saya, “Tante, kapan – kapan kita jalan – jalan lagi ya. Tapi jangan ke museum, ke mana kek gitu yang asyik…”.