Hidup Melajang Baik untuk Kesehatan Mental

Saya sadur artikel ini dari www.conectique.com. Baru kemarin Minggu saya berbincang dengan sahabat saya tentang diri kami sendiri. Kesimpulan dari obrolan yang ke utara dan ke selatan itu (sebagai terjemahan dari ngalor ngidul), kami harus lebih banyak jalan – jalan (kalau punya duit), dan tidak memikirkan hal – hal berat yang sebenarnya tidak penting untuk dipikirkan karena sudah ada yang bertugas  dan dibayar untuk memikirkan, atau menggantungkan harapan yang ketinggian sehingga sulit untuk diwujudkan. Kata teman – teman saya yang sudah lebih berumur, kata yang tepat untuk 2 poin terakhir adalah ‘semeleh’. Ini dalam usaha mempertahankan kewarasan kami sebagai perempuan lajang di usia yang seharusnya sudah tidak lajang ini. Saya manggut – manggut setuju, terutama di bagian ‘lebih banyak jalan – jalan’.

Penelitian dari Universitas London ini bilang, dari 4500 responden, ternyata perempuan berstatus lajang memiliki kesehatan mental yang jauh lebih baik dibanding perempuan yang telah menikah atau bercerai. Itu di London loh, yang kayaknya hukum masalah pernikahannya sudah lebih baik dari Indonesia.

Lha kalo di negara ini, piye?

Coba kalo responden penelitiannya adalah perempuan Indonesia, mungkin kesimpulannya akan lain. Memiliki status lajang atau menikah akan sama tidak sehatnya. Apalagi status cerai. Soalnya kalo di sini menjadi lajang bakal dirasani macem – macem oleh tetangga, handai taulan, dan saudara – saudara setanah air, kenapa kok sampai belum menikah, mungkin begini begitu ewes-ewes-ewes… Setelah menikah, pasti sibuk urus ini itu, dan masih dirasani juga yang katanya ngga bisa masak, rumahnya berantakan, tukang ngomel, anaknya bandel – bandel, ngga becus ngurus rumah tangga. Cerai? Tambah dirasani juga, lebih macem – macem lagi malah.

Itu belum menyangkut masalah hukumnya lho. Kalau cerai ngga dapat tunjangan apa – apa dari eks, malah ditinggali anak cilik – cilik, nyari kerja susah pula. Masih status menikah, ditinggal kawin lagi. Apa ngga jadi stres berat. Mungkin kalo di Indonesia, rata kadar stres nya. Mau status lajang, telah menikah, atau sudah cerai.

Saya ya tetep seneng jalan- jalan, mau lajang atau telah menikah nanti. Biar ngga stres.