Mbak Siti

Mbak Siti adalah seorang wanita berumur kurang lebih 37 tahun, bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah tempat tinggal saya. Dia tak pernah memberitahukan umur sebenarnya kepada saya, meski ada malam panjang dia mengobrol menceritakan keluh kesahnya hidup berkeluarga di jaman serba mahal ini di kamar saya. Berkeluh kesah karena dia merindukan berkumpul dengan anak – anak dan suami yang dicintainya, dan mengurus rumahnya sendiri. Berkeluh kesah karena khawatir anak – anaknya tidak terurus karena suaminya juga bekerja menarik ojek sepulang dari kerja formalnya. Berkeluh kesah saat majikan atau anak majikan membuatnya tidak kerasan tinggal dan bekerja di situ.

Seorang wanita pekerja keras, ia bertekad apa pun akan dilakukan, supaya anak – anaknya tidak berhenti sekolah. “Biar tidak seperti aku Mbak.” Anak laki – laki tertuanya duduk di kelas 2 SMP, si perempuan bungsu kelas 4 SD. “Anak – anakku tidak tahu aku bekerja ikut di rumah orang, Mbak. Mereka tahunya aku bekerja di pabrik konveksi. Biar mereka tidak malu punya ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga.” Sampai – sampai namanya diganti dengan ‘Siti’, takut kalau ada tetangganya dari Tangerang sana yang melacaknya.

Tadi pagi, saya baru bertemu setelah dia “pulang kampung” sejak Kamis malam lalu, demi mengantar anaknya beli jaket baru untuk tour ke Bandung. Tidak sempat berbincang banyak, dia hanya menanyakan baju mana yang akan saya pakai ke kantor pagi itu, biar diseterika dulu. Saya jawab tidak usah seterika. Saya melihatnya repot dengan berember – ember rendaman cucian dan kain pel, tugas rutin yang belum selesai. “Biar saya pakai baju lain saja.”

Sekilas saya lihat raut mukanya sedih. Sebelum saya pergi, dia sempat bilang rumahnya kebanjiran karena hujan deras Jumat lalu. Dan dia tetap harus pergi meninggalkan keluarganya, kembali ke rumah ini untuk bekerja. “Sedih aku Mbak Mee.” Mungkin nanti malam dia akan bercerita lebih banyak tentang perasaannya.

Pic is taken from jupiterimages.