Tentang Pak Harto

Pasti banyak tulisan mengenai Pak Harto di media. Saya juga ingin membuat satu. Saya kan tumbuh dan berkembang di jaman Orde Baru.

1. Semasa saya SD, beberapa kali disuruh berdiri di pinggir jalan, menunggu rombongan Pak Harto lewat, sambil pegang bendera merah putih kecil yang ditempel di lidi. Sampai mobil rombongan habis, saya ngga bisa liat wajah Pak Harto. Terakhir, waktu saya SMP, pakai seragam Pramuka berdiri lagi di pinggir jalan untuk tujuan yang sama, nungguin rombongan yang bawa tunas kelapa (beneran) untuk hari Pramuka. Pernah juga nungguin rombongan atlet yang akan mengambil api PON di Mrapen, Jawa Tengah.

2. Saya jadi hafal GBHN, P4, dan UUD 1945, pasal – pasalnya, ayat – ayatnya, hafal nama menteri – menteri setiap Kabinet Pembangunan, dll. Sampai ikut lomba, meskipun ngga sampai menang.

3. Nonton acara Kelompencapir dan mBangun Desa di TVRI.

4. Sekolah pulang gasik karena nonton acara Pembukaan Sea Games atau ASIAN GAMES atau PON di TVRI. Atau diharuskan ke aula sekolah untuk nonton film ‘Serangan Fajar’, ‘Operasi Trisula’, dan ‘G30SPKI’. Saya selalu bawa cemilan banyak, biar saat adegan berdarah – darah yang mengerikan itu ditayangkan, saya mengalihkan perhatian dengan sibuk mengunyah dan mengajak kawan di sebelah saya mengobrol.

5. Saya menikmati pendidikan murah, secara saya ini anak ‘negeri’. Biaya sekolah saya yang paling mahal adalah Rp 512.500,- untuk semester pertama masa kuliah saya di Jurusan Teknik Kimia. Semester selanjutnya cuma Rp 312.500,-. Masih sempat terima beasiswa juga.

6. Jalan kaki 20 km di siang bolong nan terik dalam rangka ikut gerakan reformasi mahasiswa tahun 1998. Untung ada hasilnya, Pak Harto menyampaikan pidato pengunduran diri keesokan harinya.

 Pic is taken from Wikipedia.