Perempuan Udik Pergi ke Luar Negeri

Saya tersenyum simpul membaca sebuah blog seorang pns yang menceritakan pengalamannya ke luar negeri kali pertama. Jadi teringat pengalaman saya sendiri 3 tahun lalu.

Di tahun 2004, kantor tempat saya bekerja dibantu oleh seorang teman menawarkan kesempatan mengikuti kursus yang diadakan oleh sebuah organisasi internasional. Tempatnya di Beijing, China. Saya sih senang – senang saja mendapat tawaran itu. Tapi agak khawatir juga setelah tahu bahwa setiap instansi hanya diperbolehkan mengirimkan 1 orang wakil saja. Berarti saya harus berangkat sendiri.

Ke sana ke mari mengurus tiket gratis, urus visa, menyiapkan koper baju untuk seminggu, menyiapkan laporan yang dipersyaratkan untuk presentasi, cukup membuat saya ling lung. Untung teman baik saya bersedia terus saya ganggu, saya minta mengoreksi bahan presentasi, dan saya mintai informasi sederhana bagaimana saya nanti di negara orang. Sebuah informasi yang sangat – sangat bermanfaat adalah ketika saya dijelaskan bahwa meskipun kursus ini bersifat gratis dan saya tidak perlu mengeluarkan biaya apapun untuk penginapan dan transportasi, tapi untuk urusan hotel, biasanya pihak hotel tetap minta uang deposit dulu. Jadi saya siapkan kartu kredit dan uang tunai untuk berjaga – jaga.

Hari keberangkatan tiba. Panik. Hampir ketinggalan pesawat, karena penerbangan yang harusnya dengan Garuda ternyata dirubah pakai China Airlines. Kok gak ada yang kasih tahu saya sih? Atau saya yang dodol ga tahu harus nanya ke mana? Yang jelas, saya adalah penumpang yang terakhir yang masuk ke kabin pesawat, disambut dengan senyuman manis Mbak Stewardess. Betul, setelah saya masuk dan duduk di seat, pintu kabin pesawat ditutup. Jeglek!

Kalau penerbangan tepat waktu, jam 12 siang saya transit di Guangzhou dan jam 3 sore take off ke Beijing. Jadi kira – kira saya akan sampai di Beijing jam 6 sore.

Satu baris dengan seat saya adalah seorang Ibu paruh baya dengan anak perempuannya. Ramah. Dengan bahasa Indonesia terbata – bata dia mengajak saya mengobrol. Dia bercerita habis berkunjung ke rumah familinya di daerah Mangga Besar. Jam 12 siang sudah lewat, kok pesawat belum mendarat yah? Penumpang lain juga sudah mulai gelisah. Lalu ada pengumuman dari pilot. Pesawat belum bisa mendarat di Guangzhou karena cuaca buruk. Jadi pesawat itu muter – muter aja di area dekat bandara Guangzhou. Sampai akhirnya diumumkan lagi, pesawat akan mendarat di Guilin untuk mengisi bahan bakar, baru akan terbang lagi menuju ke Guangzhou. Saya mulai panik, penerbangan terusan saya bagaimana kabarnya ya? Bakal ketinggalan pesawat deh. Terus siapa yang jemput saya nanti di Beijing? Ibu itu baik hati sekali membantu saya menelepon panitia di Beijing. Tapi sayang tidak berhasil.

Pesawat akhirnya mendarat juga. Ibu yang baik itu tetap membantu saya mengkonfirmasi penerbangan terusan ke petugas. Betul – betul dia memastikan saya mendapatkan penerbangan, tidak terlantar di Guangzhou, termasuk bicara teriak pakai bahasa Cina yang saya ngga ngerti. Dia baru pergi meninggalkan saya setelah saya dapat konfirmasi penerbangan ke Beijing, dan tinggal menunggu waktu take off saja. Saya rasa Ibu itu malaikat penolong sekaligus duta pariwisata pemerintah China. Pesawat ke Beijing baru akan terbang jam 7 malam. Saya sudah pasti telat sampai Beijing, yang jemput saya juga pasti tidak akan menunggu. Bingung sekali saya waktu itu, sendirian pula. Saya pikir kalo memang saya tidak bisa sampai di Beijing dan ikut kursus ini, saya akan balik saja ke Indonesia.

Saya sampai di Beijing tengah malam jam 12. Betul kan tidak ada panitia yang jemput saya. Saya lalu menelepon contact person dari panitia. Sialnya itu nomor kantor, dan yang menerima mungkin satpam kantor, teriak – teriak dia pakai bahasa Cina. Pasrah saya tutup telepon. Coba nomor yang lain, sepertinya nomor hp atau nomor rumah, yang menerima tetap pakai bahasa Cina. Saya tutup kembali telepon. Masih ada kesempatan, saya akhirnya menelepon hotel tempat saya menginap, saya lupa nama hotelnya. Voila, dia bisa bahasa Inggris! Saya tanya bisa tidak jemput saya di airport, saya peserta kursus yang diselenggarakan organisasi ini di hotel Anda. Dia bilang tidak bisa, panitia tidak minta fasilitas antar jemput tamu. Saya bilang, ini sudah tengah malam, tidak ada transportasi umum, kalau saya naik taksi, berapa lama dan berapa tarifnya? Dia bilang naik taksi sekitar 1 jam dan tarifnya kira – kira 100 RMB.

Akhirnya saya beranikan diri keluar bandara untuk mencari taksi. Tapi baru saja keluar, puluhan supir taksi merubungi saya dan menarik – narik saya supaya mau naik taksinya, riuh rendah suaranya. Serem. Masuk lagi saya ke dalam bandara dan mencari taksi service. Akhirnya saya pakai taksi service bandara, lebih aman, tapi juga lebih mahal, 240 RMB. Dan inilah saya, seorang perempuan, jam 1 malam berada di taksi sendirian, di negara orang, bahkan supir taksi pun tidak bicara bahasa Inggris. Lost in translation. Itulah kali pertama saya merasakan 1 jam ketegangan luar biasa. Saya HARUS percaya supir ini akan mengantar saya sampai tujuan. Dan memang iya. Jam 2 malam saya sampai di hotel, yang ternyata sudah berada di luar kota Beijing, bukan di down town nya.

Mungkin karena kasihan melihat saya kelelahan, resepsionis hotel langsung menyilahkan saya ke kamar tanpa minta uang deposit. Besok pagi saja urus masalah duitnya. Saya cuma perlu konfirmasi ID card dan paspor. Keesokan paginya ketika saya bertemu dengan peserta kursus yang lain, heboh mereka menanyakan ‘hilangnya’ saya. Seorang pria dari Vietnam bilang seharusnya saya satu penerbangan dan satu jemputan dengan dia ke Beijing. Mereka sudah menunggu saya, tapi sampai penumpang pesawat terakhir keluar, saya tidak muncul. Lha iyalah, saya kan masih terdampar di Guangzhou jam segitu.

Pengalaman yang mengesankan. Sampai juga perempuan udik ini ke Beijing sendirian.

Pic is taken from jupiterimages.

One thought on “Perempuan Udik Pergi ke Luar Negeri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s