Jalan – Jalan ke Jawa Timur (2)

Sepulang dari tour sunrise, kami cepat – cepat makan pagi. Dari kemarin kami belum makan sesuatu yang enak, dari makan rawon encer di malam sebelum penerbangan, makan soto encer di Bungur Asih, makan sore ala kadarnya dengan indomie rebus di warung Cemoro Lawang, dan makan pagi kami di penginapan juga belum memuaskan lidah. Kami harus check out jam 12 siang. Jadi kami makan saja apa yang ada, dan langsung balik ke kamar untuk berkemas.

Udara di bromo masih cukup dingin, tapi saya dan Lisa memutuskan mandi, soalnya dari kemarin kan ngga mandi hihi… Ada yang tidak beres, air panas dari shower mati. Saya langsung telpon resepsionis minta dibetulkan. Tidak lama datang teknisi menuju belakang kamar kami, ternyata power house nya ada di sana. Jadilah kami serasa main petak umpet.

“Sudah panas , Mbak?”

“Belum.”
Sekarang, sudah?

“Belum. “

“Masak sih, Mbak?”

“Yeee… ngga percaya…”
“Sekarang, Mbak?”

“Sudah sudah, Pak. Makasih ya… Asyik, bisa mandi!”

Jam 12 siang Lisa menghubungi Mas supir Elf yang kemarin. Kami check out. Mobil Elf datang tepat waktu. kami langsung menuju Probolinggo. Mas supir tetap sopan, kami tawarkan makan siang bersama, dia menjawab, “Saya sudah makan tadi di rumah, Mbak”. Tapi tetap kami paksa. Kami tawarkan rokok, dia menjawab, “Maaf Mbak, saya tidak merokok”. Akhirnya rokok diambil keneknya. Baru makan siang itu lidah kami terpuaskan, padahal juga kami makan di warung kecil di pinggir jalan. Kami sampai di terminal Bayu Angga Probolinggo jam 2 siang. Segera kami menanyakan bis Patas jurusan Malang ke petugas terminal. Hati – hati, banyak agen perjalanan yang ternyata menipu. Makanya kami selalu bertanya ke petugas berseragam. Ongkos ke Malang Rp 20.000,- per orang. Sampai di Malang jam 5 sore. Dari terminal kami naik mikrolet AG ke Jalan Jaksa Agung Suprapto, murah, ongkosnya cuma Rp 2.000,- seorang, tapi supir minta Rp 2.500,- karena bawaan kami cukup banyak.

Sampai di Hotel Regent Park ternyata ada masalah. Price rate yang informasinya saya dapat dari percakapan telepon dengan resepsionis Hotel Regent Park sebesar Rp 399.000,- melonjak menjadi Rp 609.000,-. Dan fasilitas merchandise dari kartu Sinar Mas saya juga ditolak, padahal saya juga sudah konfirmasi merchandise lewat telepon, dua kali. Konfirmasi menyatakan harga kamar Rp 399.000,- sudah include taxes, dan saya dapat diskon sebagai pemegang kartu Sinar Mas. Mereka menanyakan dengan siapa saya bercakap waktu itu, siapa namanya. Saya jadi jengkel, saya kan tidak menanyakan nama mas dan mbak itu. Ada 3 orang petugas front desk resepsionis yang berargumen dengan saya. Toh nama saya sudah ada di daftar pesan mereka, jadi jelas saya tidak berbohong bahwa saya memang telah menelepon hotel sebelumnya. Akhirnya print out merchandiser list dari website Sinar Mas saya perlihatkan. Deal, saya dapat diskon 35%, tapi price rate yang dikenakan tetap Rp 609.000,-. Meski gondok saya mengalah, tidak mudah mencari hotel dalam suasana peak season natal begini. Paling tidak mbak supervisor itu sudah memberikan solusi yang lumayan. Mereka perlu alat rekam rupanya, supaya konsumen yang melakukan reservasi lewat telepon seperti saya tidak dirugikan dengan informasi yang simpang siur dan kemudian mereka bantah sendiri. Mungkin juga Sinar Mas perlu untuk meng-update informasi merchandiser di websitenya. Halah, mbuh lah… yang merasa aja benahi diri seperlunya, yang jelas, saya sebagai konsumen harus merasa nyaman.

Kegiatan pertama di hotel adalah istirahat. Kami tidak bisa tidur semalam karena kecapekan dan kedinginan. Jadi malam ini waktunya istirahat. Untuk makan malam, kami berjalan ke arah belakang hotel, melewati Rumah Sakit Saiful Anwar, ada warung Soto Ayam Ambengan, enak dan tidak terlalu mahal. Malam itu saya mencari informasi wisata di Malang, sayang, pihak hotel tidak menyediakan peta wisata Malang. Tapi saya dapat peta kota Malang. Sesuai informasi yang saya dapat dari papie saya, besok kami berencana mengunjungi Candi Singosari dan dolan ke area Batu.

Pagi – pagi kami makan pagi. Suasana agak riuh, soalnya beberapa tamu kelihatannya muslim, sibuk mengembalikan daging yang sudah terlanjur diambil, mereka ragu itu adalah daging babi. Saya baca tulisannya “bacon”. Biasanya memang babi, tapi saya perhatikan tekstur dagingnya sapi. Saya tanya mas dari hotel yang berdiri di situ, katanya itu juga daging sapi. Halah, mumet. Makan yang lain aja.

Jam 7.30 kami mulai jalan. Bell boy captain menawari kami taksi, ya sudah, kami pakai taksi saja ke Candi Singosari, kena argometer Rp 38.000,-. Taksi kami suruh pergi. Kami lalu sibuk di Candi Singosari, biasa… jeprat jepret he he. Sayang arca – arca di sana sudah tidak lengkap. Arca Ken Dedes sudah ada di Museum Nasional Jakarta. Mas Dedi, tour guide yang kami temui di Candi Singosari menyarankan kami berjalan ke arah utara sekitar 500 meter, dan kami akan menjumpai arca Gupala raksasa. Beratnya 27 Kg. Diyakini itu dulu adalah pintu gerbang Kerajaan Singosari. Ini Lisa sedang mendengarkan kuliah sejarah Candi Singosari dari Mas Dedi.

 

Berikutnya adalah Stupa Sumber Awan. kata Ibu penjaga arca Gupala, ke sana dengan naik ojek cuma Rp 3.000,-. tapi Lisa tidak mau naik ojek. Jadi dia menawar sebuah becak. Yang ada tukang becak itu mengoper kami kembali ke tukang ojek. “Hey, arek iki arep neng Sumber Awan”, begitu dia bilang. Mas Dedi yang memperhatikan kami dari kejauhan jadi ketawa. Lalu dia menghampiri kami.

“Ayo mbak, saya antar aja pake mobil proyek.”

“Lho, lha kenapa tho Mas? Kami jalan kaki saja deh, ngga jauh kan? Ngga enak nih, mengganggu. Mas nya kan lagi kerja.”

“Ngga, saya kasihan aja sama kalian, ga tahu jalan. Nanti ditipu sama tukang ojek itu. Kalian kan perempuan semua. Khawatir sayanya, kan saya juga punya adik perempuan di rumah.”

“Ya udah deh Mas, tapi kami ganti uang bensinnya ya?”

“Halah, santai saja, Mbak. Santai…”

Ternyata jalan ke Stupa Sumber awan naik turun, tidak jauh sih, hanya sekitar 5 Km dari Candi Singosari. Saya dan Lisa jadi ketawa ngakak membayangkan tukang becak yang akan kami sewa tadi. Kalau kami memang jadi naik becak ke Sumber Awan, itu adalah p.e.n.y.i.k.s.a.a.n! Di perjalanan Mas Dedi bercerita ada perempuan kaukasia dari Australia yang ia temui, bercerita membayar ojek Rp 1 Juta untuk ke Sumber Awan. Waduh, banyak penipu rupanya.

Kami masih harus berjalan kaki menyusuri sawah dan kali sepanjang 500 meter. Ternyata itu cuma stupa saja. Tempat banyak orang ngalap berkah, berdoa minta rejeki, jodoh, kesembuhan, dan kesehatan. Ada sumber air yang tidak pernah surut.

Tawaran Mas Dedi berlanjut. Jadi kami akhirnya diantar sampai di Agrowisata Batu oleh anak buahnya. Baik banget ya dia.

Sampai di Kebun Agro ternyata hujan. Kami menunggu sebentar. Tiket masuknya Rp 25.000,- per orang dengan bonus boleh memetik buah apel sendiri maksimal 2 buah. Suasananya lumayan enak, udaranya sejuk, bersih, dengan pemandangan gunung Arjuna. Kami jalan – jalan di sana sampai sore. Yang agak menjengkelkan adalah saat adegan memetik buah apel, karena ada petugas yang pake toa terus berteriak – teriak cempreng mengingatkan agar memetik 2 buah apel saja, tidak boleh lebih, dan tidak boleh rontok. Atau akan diharuskan membayar kelebihan buah yang dipetik. Saya merasa terancam, dan telinga saya jadi budheg. Mungkin lebih baik ditulis saja peraturan – peraturan itu di sebuah papan yang besar sebelum masuk ke kebun, sehingga pengunjung bisa membacanya. Lebih ramah dan efektif.

Jam 4 sore kami memutuskan pulang. Naik ojek ke terminal Batu, Rp 3.000,- per orang. Terus naik mikrolet 3 kali, baru deh sampai di hotel lagi. Cuapek banget, ditambah perubahan suhu yang agak mengejutkan dari Jakarta – Bromo – Malang, jadi saya agak teler juga. Malam itu saya tidur dengan sukses dari jam 7 malam, setelah minum Panadol dan secangkir teh panas.

Hari terakhir di Malang. Kami berencana keliling kota Malang saja. Pagi pagi jam 8, sampailah kami di alun – alun kota Malang. Keliling kami memutari alun – alun, menengok Masjid Agung dan Gereja Immanuel yang berdiri bersampingan. Lalu kami sempatkan shopping di Sarinah. Di seberang Sarinah ternyata ada Restoran Oen, restoran yang rencananya kami akan kunjungi tadi malam. Mirip seperti Restoran Oen di Semarang. Kami hanya makan es krim di sana. Jam 10.30 siang kami ke tujuan terakhir, Toko Mungil beli keripik tempe khas Malang dan Keripik apel, untuk oleh – oleh. Lalu kami kembali ke hotel.

Jam 12 siang kami meninggalkan Hotel Regent. Naik taksi ke terminal, dan dilanjutkan naik bis ke Surabaya, lebih murah, ongkosnya cuma Rp 15.000,- per orang. Sampai di Bungur Asih hujan deras, untung bis yang ke bandara jalurnya tidak jauh dari bis kami berhenti. Jam 3 sore kami sudah sampai di Juanda, langsung boarding dan menuju gate. Penerbangan kami jam 17.00 wib. Kami sempatkan makan siang di Juanda, rawon lagi. Bandara Juanda lebih teratur, rapi, dan bersih daripada Cengkareng, mungkin karena bangunannya masih baru. Penerbangan Surabaya – Jakarta lancar, kami bertemu flight attendant yang sama dengan saat kami berangkat dari Jakarta, mbak Dilla. Jam 7 malam kami sudah mendarat di Cengkareng.

Jakarta, jumpa lagi. Lisa menyampaikan laporan keuangan, kami defisit Rp 10.000,- dari budget yang direncanakan.

Update 10 Nop 2008 :

Lumayan banyak nih nyang nyasar ke tulisan ini. Mungkin banyak yang merencanakan liburan akhir tahun ya… Sekedar saran, Bromo akan indah dinikmati di bulan – bulan Juni – Agustus, yeah… pas musim kemarau gitchu… Kalau musim hujan, sunrise nya lah kagak kelihatan, banyak mendungnya. Tapi ya teuteup istimewa. Berdoa saja supaya jangan kena pas hujan deras. Tapiiiiii…. bulan Juni – Agustus sepertinya pengunjung juga akan buanyak banget.

Jadi kelihatan ngga sunrise nya?

Uhm…. semoga sih kelihatan. Cari posisi yang wuenak saja. Atau bakal cuma liat kepala orang berseliweran. Kan ngga indah banget…

5 thoughts on “Jalan – Jalan ke Jawa Timur (2)

  1. Mbak,,, salut gue sama perjuangan kalian…
    emang dasarnya suka travelling ya?….kliatan ngotot, nekat dan cenderung ngirit,,,,

    bukannya saya mau promosi lo…di malang banyak travel agent..bisa bantu arrange semuanya,,dari hotel, tour dsb. resiko ketipu org sedikitlah..kalo mau yg budget pricejuga ada, kontak aja langsung ke T&T di Malang. pasti lebih nyaman liburan kalian.

    tku
    pompom suryo

    Saya pun yakin memang banyak travel agents, tapi kalo di-arrange sendiri lebih puas. Ada unsur deg2an dan pengalaman yang tak terlupakan, dan bisa dipakai bahan cerita. Tapi boleh juga sarannya. Semoga sukses sama usaha travel agent-nya. -Mee-

  2. jadi kangen juga nih makan rawon. udah lama nih aku gak pulang kampung.

    He eh, rawon memang enak tenan. Jadi ingat ngobrol sama orang Australia. Pas ditanya, “Apa makanan kesukaan kamu?” Saya menjawab, “Rawon”. Padahal orang itu namanya Rowan… Jadi nyengir dia🙂. Maaf, bukan maksudnya nyindir nama situ ya… Tapi lucu juga, Rowan eats Rawon, hehehe…
    -Mee-

  3. hanya meluruskan. namanya bukan arca GUPALA tapi arca DWARAPALA. beratnya bukan 27 kg, tapi 1000 kg. diukir dari batu massive ( pejal ) dengan ukuran batu asal 3m x 12 m. merupakan patung terbesar se Indonesia dari bahan batu yang tidak disambung sambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s