Jalan – Jalan ke Jawa Timur (1)

Ini dia cerita perjalanan saya ke Jawa Timur liburan natal kemarin. Berdua dengan Lisa teman saya semasa SMA, kami pergi ke Bromo naik transportasi umum, agak nekat memang, secara kami berdua tidak tahu medan sebenarnya, mengandalkan saja pengalaman saya 7 tahun yang lalu mengunjungi Bromo bersama arek – arek Suroboyo kawan semasa Praktek Kerja Lapangan saya dulu.

Di awal keberangkatan kami sudah panik, penerbangan Air Asia ke Surabaya jam 6.50 WIB, dan kami baru sampai di Cengkareng jam 5.30 pagi, dengan kondisi penumpang yang mau boarding seperti antrian minyak tanah. Eh, sebagai info, murah kok pake Air Asia, kami dapat harga Rp 1.649.000,- untuk tiket pp Jakarta – Surabaya – Jakarta untuk 2 orang. Dan sebagai info lagi, penerbangannya tepat waktu, jadi tidak ada acara bete nunggu penerbangan delayed.

Untung jam 6-nya kami sudah bisa masuk ke ruang boarding dan segera mencari counter Air Asia, counter line 27 – 29 sesuai info di layar, setengah berlari saya dan Lisa menuju counter line yang ada di ujung sana, lho kok ngga ada? Tambah panik lagi deh, soalnya mereka beritahukan harus boarding 2 jam sebelumnya, dan kami kan termasuk kategori sangat terlambat jadinya. Setelah bertanya sama petugas bandara, ternyata Air Asia boarding di loket penjualan tiket. Sudah begitu, Lisa yang sesuai kesepakatan menjadi juru bayar a.k.a bendahara selama perjalanan ini berlangsung, baru sadar tasnya tertukar, mungkin sewaktu di scan x-ray. Huaaaaaaaa….. Bagaimana caranya mencari orang yang pakai tas yang sama dengan tasnya Lisa di area boarding ini seramai ini? Duh Lis, ganti aja deh tasnya, jangan yang pasaran gituh… Untung ngga lama kemudian ketemu, ngga tahu pake ilmu apa tuh Lisa bisa cepet menemukan tasnya kembali, mungkin dari baunya. Jangan bayangkan Lisa mengendus – endus di sepanjang area boarding bandara Cengkareng ya! Oke, boarding beres, kami menuju gate, dan duduk manis di ruang tunggu, penuh orang di ruang tunggu. Lalu ada chaos, penerbangan Lion Air ke Medan pindah ke gate yang lain. Seketika ruang tunggu itu berkurang setengah populasinya, ternyata kami duduk di sisi ruang tunggu penumpang Lion Air. Disertai sumpah serapah penumpang Lion Air, para penumpang pindah gate, dan petugas Lion Air terus berteriak – teriak dengan halo – halo yang kualitas suaranya cempreng, bikin sakit telinga! Suasananya persis kayak di terminal Kampung Rambutan waktu musim mudik. Saya ingat penerbangan saya dengan Lion Air Surabaya – Jakarta beberapa tahun yang lalu, suasananya sama persis, delayed terus sampai capek!

Tidak lama kami diperbolehkan masuk ke pesawat. Penerbangan lancar, sepanjang penerbangan saya nebeng baca majalah penumpang di depan tempat duduk saya, topiknya seru sih, tentang bagaimana melewatkan malam yang liar dengan kekasih Anda (itu majalah pria rupanya, dan penumpang di depan saya memang pria). Gambarnya lumayan seru, gadis eksotik hanya mengenakan bra dan panty berpose menantang di atas ranjang.

Kami mendarat di Juanda jam 8 pagi, langsung naik bis Damri ke terminal Bungur Asih. Ternyata dekat, tidak sampai 30 menit, biayanya Rp 10.000,- per orang. Di terminal Bungur Asih kami sarapan dulu, dengan menu soto yang rasanya tidak jelas, dan tampang mbakyu warung yang judes. Ga pa pa lah, daripada pingsan di perjalanan. Perjalanan dilanjutkan naik bis antar propinsi ke Probolinggo. Jam 10 pagi mulai berangkat, perkiraan saya sih akan sampai di Probolinggo jam 12 siang. Ternyata kami sampai di Probolinggo jam 1 siang, agak macet di Porong, dan memang bisnya berjalan dengan motto “alon – alon asal kelakon”. Penumpang di sebelah saya menggerutu selama perjalanan, karena bis nya berjalan seperti keong. Harga karcis Rp 20.000,- per orang. Saya tidak menikmati perjalanan di bis, selain karena saya tidak sebangku dengan Lisa sehingga tidak bisa mengobrol, saya juga jadi harus meladeni pembicaraan dan pertanyaan dari orang yang sebangku dengan saya yang lama – lama menyebalkan. Sewaktu saya turun di terminal Probolinggo pertanyaan terakhirnya adalah, “Ngga ada yang jemput mbak? Saya antar ya, mbak mau ke mana? Berdua aja?”. Saya jawab dengan pandangan judes saya dan saya pun pamit turun duluan.

Probolinggo masih panas rupanya. Setelah bertanya ke petugas DLLAJR di terminal, kami menuju ke lokasi yang menyediakan angkutan ke Bromo, informasi yang saya tahu, mobil terakhir yang naik ke Bromo berangkat jam 2 siang, masih ada waktu 1 jam. Sampai di lokasi kami tanya lagi, dan diantarkan sampai ke tempat mobilnya sama mas – mas petugas loket peron yang mungkin kasihan melihat 2 perempuan yang lugu – lugu ini bingung mencari angkutan. Seorang preman terminal, berambut gondrong sebahu, badannya agak bulat, bertelanjang dada, sehingga kelihatan tato di lengannya, menanyakan tujuan kami. Setelah kami jawab, lalu kami disarankan menunggu, tapi dia bilang masih ada kok mobil ke Bromo. Jadi kami nikmati saja panasnya terminal Bayuangga Probolinggo menunggu mobil Elf ke Bromo. Setelah 20 menit menunggu preman yang sama menyarankan kami berjalan keluar saja dari terminal, mungkin ada mobil ke Bromo yang ngetem di luar terminal, jadi kami bisa langsung naik. Oke, kami turuti sarannya. Sepanjang jalan keluar terminal kami harus menggelengkan kepala sesering mungkin atas tawaran tukang ojek, lama – lama beberapa jadi agak tidak sopan, tapi kami tidak punya waktu banyak untuk menjadi pemarah. Pura – pura saja tidak mengerti bahasa Jawa.

Belum sampai luar terminal, sebuah mobil Elf berpapasan dengan kami. Lisa langsung bertanya, “Ke Bromo ya Mas?”. Kami pun naik mobil Elf itu. Kembali kami bertemu dengan mas preman, saya anggukan kepala, tanda terima kasih. Ramah, tidak seseram penampilannya.

Ternyata masih 2 jam perjalanan ke Bromo, ongkosnya Rp 20.000,- per orang. Tapi kami bayar Rp 30.000,- per orang, karena sampai di pasar Sukapura mereka ngetem lama sekali dan kami tidak mau menunggu, tukang ojek lagi – lagi bikin kami risih. Jadi kami nego, antar kami sekarang, kami beri tambahan Rp 20.000,- dari harga normal. Pemandangan sepanjang perjalanan cukup menarik, pohon – pohon, kebun bawang, pencari rumput, hutan…

Supir Elf kami sangat sopan. Bermacam tawaran cemilan dari kami ditolak dengan halus, caranya berkomunikasi dengan kami juga sopan. Mengingat transportasi Bromo – Probolinggo agak sulit, kami memutuskan minta dijemput besok siang, biayanya Rp 100.000,- khusus untuk mengangkut kami saja, tapi kami akan ijinkan kalau mereka mau menaikkan penumpang lain sepanjang perjalanan. Biaya itu cukup murah, karena info dari hotel, biaya sewa transportasi Rp 200.000,- sekali jalan, dan ini diamini oleh supir jip yang saya tanya kemudian.

Jam 5 sore kami sampai di penginapan. Kami check in dan bayar biaya sewa kamar Rp 240.000,-, Hotel Bromo Permai nama penginapan kami. Udara mulai dingin, saya mulai mengenakan jaket. Perut kami sudah protes minta diisi, jadi setelah meletakkan tas dan leyeh – leyeh sebentar, kami keluar penginapan mencari makan. Tidak banyak pilihan, kami masuk saja ke warung yang buka. Rp 31.000,- untuk 2 mangkuk indomie telor, 1 porsi sate, 3 potong tahu, 2 bungkus krupuk, dan 2 gelas air jeruk panas sirup rasa orson panas.

Sore itu kami sempatkan beli kupluk dan sarung tangan dari pedagang di depan penginapan. Agak mahal, tapi kami beli juga, belum tentu tahun depan kembali ke sini lagi he he. Kami lihat toko souvenir, harganya juga termasuk mahal untuk kualitas barang yang biasa saja. Ternyata di depan penginapan ada pemandangan gunung Batok. Jadilah kami –models wanna be- berpose jepret sana jepret sini sok pede.

Menjelang maghrib kami kembali ke penginapan, istirahat, besok pagi buta kami harus bangun untuk tour sunrise ke puncak Penanjakan. Saya berangkat tidur dengan sepatu dan jaket tebal sewaan, plus kupluk dan sarung tangan yang baru saya beli. Dingin sekali, ternyata menurut info di leaflet yang saya dapat dari kartu kredit ANZ, pada malam hari suhu di sana bisa sampai 3° C. Pantas…

Jam 3.30 pagi dan Lisa membangunkan saya. Supir – supir jip sudah terdengar mengobrol di pelataran depan penginapan. Setelah berkemas, jam 4 kami keluar kamar dan mulai perjalanan. Supir jip kami seorang Bapak berusia 40-an, ramah, kami berdua duduk di depan. Pertanyaan rutin terdengar, “Berani kalian perempuan berdua saja jalan – jalan ya…” Gelap di mana – mana. Jam 4.30 pagi kami sampai di Penanjakan, sudah ramai, orang yang menyewakan jaket tebal ternyata juga banyak di Penanjakan. Kami sewa jaket tebal dari penginapan dengan harga Rp 15.000,-. Sewa jip Rp 250.000,-. Kami berjalan naik ke lokasi untuk melihat sunrise. Lokasi sudah ramai sekali, suara orang – orang bercampur baur, dialek Jawa Timuran, Jakartan, sepertinya ada juga dialek Sumatran, ada juga beberapa orang asing, dan banyak sekali rombongan piknik, suara anak – anak kecil berteriak – teriak. Kami mencari tempat duduk. Beberapa orang mulai jeprat – jepret, entah apa yang kelihatan dan dijepret, wong masih gelap. Sampai jam 5.30 matahari tidak juga muncul, hehe… penonton kecewa, termasuk saya, memang suasananya lagi berawan. Tapi panorama Bromo mulai kelihatan cantiknya. Kami tunggu sampai jam 7 pagi untuk melihat panorama. Sulit untuk memotret, kepala orang di mana – mana.

Kami sempatkan ngopi dan menghangatkan diri di warung, mereka menyediakan tungku arang, lumayan, dingin agak berkurang. Sampai di lokasi parkir, kami diminta bertukar jip. Supir jip kami yang baru adalah anak dari supir jip yang sebelumnya. Ada sedikit kerusakan di jip anaknya sehingga kami yang cuma berdua bertukar mobil, sewaktu berangkat, jip anaknya memuat 6 orang. Saya menyesal terlanjur bilang ‘iya’ setelah mengetahui permasalahannya, tapi saya tekankan, kalau perjalanan saya jadi tidak asyik gara – gara jip kami ditukar dengan yang ‘kurang’ onderdilnya, saya akan komplain ke pihak hotel. Mas supir nyengir, penumpangnya galak banget. Di tengah perjalanan kami berhenti untuk memotret this stunning panoramic.

Berhenti lagi di tengah lautan pasir dekat gunung Batok, ada Pura di sana dan hanya dibuka khusus pasaat – saat tertentu, misalnya pas ada upacara Kesada.

Berhenti lagi untuk naik kuda ke kawah Bromo.

Berhenti lagi di lautan pasir.

 

Berhenti lagi di savana, bukit Teletubbies. Ada 2 teletubbies lagi mejeng he he….

 

Oiya, untuk menuju ke lautan pasir dan savana, supir jip meminta tambahan Rp 100.000,- lagi.

Jam 9.30 pagi kami kembali ke penginapan dan sarapan. Sebuah tour yang menggembirakan. Yang saya heran, 7 tahun yang lalu, saya naik ke kawah Bromo, melewati laut pasir, dan naik tangga yang curam ituh, dengan berjalan kaki dari penginapan, pulang – pergi. Kok bisa ya saya!