Menjadi Perokok Pasif

Terakhir saya ketemu papie lebaran lalu, saya baru tahu kalau beliau merokok lagi, meski tidak banyak, dan buat menemani tamu saja, kata beliau. Mbah putri saya di dusun puncak gunung sana juga masih merokok, meski usianya sudah lewat 80 tahun. Kawan – kawan saya di kantor, banyak yang perokok. Dari pagi sampai sore, saya menghirup asap rokok dari rekan kerja di sebelah kiri dan sebelah kanan meja kerja saya, di ruang makan juga.

Dulu, saya bebas asap rokok Sabtu dan Minggu, karena lebih banyak di rumah, atau kalau jalan – jalan ya jangan mendekati dan dekat – dekat orang yang merokok. Sekarang – sekarang ini, Sabtu atau Minggu juga saya masih hirup asap rokok, secara laki – laki kawan dekat saya itu merokok. Dia bahkan bisa memanipulasi suasana supaya dia bisa merokok lebih lama, begini caranya :

  1. kalau kami makan malam di luar, memilih makan di ruang terbuka (jadi setelah makan bisa langsung membakar rokok, gitu loh).

  2. meminta saya menunggu sebentar karena mau ke warung (pasti untuk beli rokok kan, meski ngga bilang terus terang ke saya).

  3. memilih berjalan memutar melewati area terbuka selama mungkin (kan waktu merokoknya lebih lama, daripada lewat jalan dalam gedung yang artinya tak bisa merokok).

Saya pengen sih berada di lingkungan yang bebas rokok, bagaimana ya caranya? Kenapa juga ya para perokok itu santai ngeluarin asap, padahal itu mencemari udara, dan akhirnya terhirup oleh saya? Egois sekali. Akhir – akhir ini sih saya sering ga tahan, jadi saya cuek saja pergi atau menutup hidung jika mulai tercium bau rokok.

Mau sehat itu susah yah.