Berita Duka di Akhir Pekan

Entah apa namanya perasaan yang saya rasakan. Sedih, terkejut, menyesal, menjadi satu. Hari Sabtu kemarin, sepulang saya dari menjenguk kawan yang baru melahirkan seorang bayi perempuan cantik. Sesampainya saya di rumah, Embak memberitahu saya : mbak Mee, Opung meninggal. Saya tidak percaya, saya pikir Embak bercanda. Opung yang mana, tanya saya. Opung yang laki – laki, yang tinggal di sini itu, Embak menjawab. Saya berdiri saja di depan pintu kamar tidak jadi masuk. Kok bisa, sakit apa, tadi pagi kan masih bicara dengan saya sambil senam di depan rumah. Iya, Sabtu pagi itu Opung masih tersenyum kepada saya, senyum yang sama seperti yang setiap pagi beliau hantarkan untuk saya ketika saya berangkat kerja.

Saya memang baru kenal Opung. Perjumpaan pertama saya adalah tahun lalu, ketika beliau mengunjungi cucunya di Jakarta. Ini kali kedua perjumpaan saya, sapaan pertama yang beliau ucapkan adalah : hei, masih di sini rupanya Mee. Dan kemudian setiap pagi saya dapatkan senyumnya.

Aduh, sedih rasanya mengingat Opung, apalagi mendengar Ibu menangis, menyayat hati. Beliau meninggal dalam perjalanannya menjenguk mertuanya yang sakit keras, dan justru beliau yang diambil lebih dulu oleh Tuhan.

Selalu ada tempat untuk orang baik di surga, selalu ada tempat untuk Opung.