Tertipu

Hampir setiap Sabtu atau Minggu pagi, saya jalan kaki ke pasar kecil dekat rumah untuk membeli lontong sayur, nasi uduk, atau jajanan pasar lainnya. Di ujung gang pas mau masuk pasar kecil itu, selalu ada seorang laki – laki pengemis yang duduk ngelesot dan menunduk. Wajahnya ditutupi topi bulukan. Posisi duduknya membuat saya yakin ada sesuatu yang salah dengan kakinya, entah lumpuh atau bagaimana. Biasanya sih saya tidak terlalu peduli. Dulu, Ibu saya yang selalu melempar lembar ribuan ke mangkoknya, waktu itu Ibu menemani saya sehabis terkena DB dan harus bed rest setelah opname 3 hari. Itu sudah setahun yang lalu.

Kira-kira 3 minggu yang lalu, saya melempar lembaran ribuan kali lima ke dalam mangkok itu. Kemaren Minggu, saya berniat melempar lagi lembar ribuan ke mangkoknya. Tapi ngga jadi, secara pas saya mau lewat di depannya, pengemis itu tiba – tiba mendongak, dan saya bisa melihat dengan jelas wajahnya memancarkan aura sehat wal’afiat yang nyata. Dia pun agak tergagap dan buru – buru menundukkan kepalanya lagi, mungkin dia kaget juga melihat saya.

Sore harinya saya ke atm di mall terdekat. Saya sering ke mall itu, dan saya juga sering lihat ada pengemis dengan gaya yang sama di dekat jalan masuk samping mall. Kemarin itu, saya baru ngeh, orangnya sama. Kalau dugaan saya benar pengemis itu lumpuh, bagaimana cara dia pindah dari pasar di dekat rumah saya ke jalan di samping mall?

Saya saja perlu jalan kaki dan naik mikrolet lebih kurang 15 menit, dari rumah menuju mall itu.