<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Perempuan Lajang</title>
	<atom:link href="http://meekaela.wordpress.com/2008/03/28/perempuan-lajang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://meekaela.wordpress.com/2008/03/28/perempuan-lajang/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 03:32:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: sinyo</title>
		<link>http://meekaela.wordpress.com/2008/03/28/perempuan-lajang/#comment-156</link>
		<dc:creator>sinyo</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:53:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://meekaela.wordpress.com/?p=312#comment-156</guid>
		<description>Saya laki-laki dan saya akan mengemukakan pandangan saya dalam kacamata laki-laki atas tulisanmu. 
Menurut saya baik laki-laki dan perempuan yang masih memilih jalan untuk sendiri/ jomblo atau enggan memiliki ikatan komitmen/ pacaran memiliki alasanya masing2 dan mungkin bisa sama seperti yang kamu tuliskan &quot;Menggelitik sekali pernyataan bahwa perempuan ‘harus’ matre, supaya laki - laki merasa ‘berkuasa’ dan ‘dibutuhkan’. Tapi begitulah kenyataannya. Laki - laki akan merasa benar - benar menjadi ‘laki - laki’ kalau dia dimintain tolong&quot;, laki-laki yang memilih njomblo pun memiliki alasan yang sama &quot;jangan ada tendensi kelaki-lakian dari perempuan&quot; dan masih menurut saya yang justru hal itu membuat batasan dalam diri masing2, dengan memberikan tendensi2 yang sebenarnya biasa saja dalam sebuah relasi. Maka nya saya tidak heran dengan adanya laki-laki dan perempuan yang memilih jalan njomblo walaupun sudah berumur. Thanks.

&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Trims komennya. Jadi saya perlu belajar &#039;matre&#039; dan &#039;meminta tolong&#039;. :-).&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya laki-laki dan saya akan mengemukakan pandangan saya dalam kacamata laki-laki atas tulisanmu.<br />
Menurut saya baik laki-laki dan perempuan yang masih memilih jalan untuk sendiri/ jomblo atau enggan memiliki ikatan komitmen/ pacaran memiliki alasanya masing2 dan mungkin bisa sama seperti yang kamu tuliskan &#8220;Menggelitik sekali pernyataan bahwa perempuan ‘harus’ matre, supaya laki &#8211; laki merasa ‘berkuasa’ dan ‘dibutuhkan’. Tapi begitulah kenyataannya. Laki &#8211; laki akan merasa benar &#8211; benar menjadi ‘laki &#8211; laki’ kalau dia dimintain tolong&#8221;, laki-laki yang memilih njomblo pun memiliki alasan yang sama &#8220;jangan ada tendensi kelaki-lakian dari perempuan&#8221; dan masih menurut saya yang justru hal itu membuat batasan dalam diri masing2, dengan memberikan tendensi2 yang sebenarnya biasa saja dalam sebuah relasi. Maka nya saya tidak heran dengan adanya laki-laki dan perempuan yang memilih jalan njomblo walaupun sudah berumur. Thanks.</p>
<p><strong><em>Trims komennya. Jadi saya perlu belajar &#8216;matre&#8217; dan &#8216;meminta tolong&#8217;. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .</em></strong></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
